Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Penyebab Handuk Masih Bau Apak Setelah Dicuci dan Cara Mengatasinya

Kompas.com, 4 Juli 2025, 19:00 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Handuk yang sudah dicuci seharusnya memberikan sensasi segar, harum, dan nyaman saat digunakan. 

Namun, sering kali kita justru mendapati handuk yang baru dicuci tetap berbau tidak sedap, seperti bau apak, lembap, atau bahkan anyir. Jika ini terus terjadi, masalahnya bisa lebih serius dari sekadar pilihan deterjen.

Melansir The Spruce, berikut adalah enam penyebab handuk masih bau setelah dicuci dan solusi yang bisa kamu lakukan di rumah.

Baca juga: 5 Tanda Handuk Sudah Tidak Layak Dipakai Lagi

Mesin cuci kotor

Mesin cuci yang kotor bisa menjadi sumber utama bau tidak sedap pada cucian. 

Meski terlihat bersih di luar, bagian dalam mesin cuci, terutama drum dan selang pembuangan, bisa menyimpan residu deterjen, serpihan kain, jamur, dan bahkan bakteri. 

Sebaiknya, bersihkan mesin cuci minimal sebulan sekali. Gunakan air panas yang dicampur cuka putih suling dan jalankan satu siklus tanpa cucian. 

Bisa juga ditambahkan baking soda untuk hasil yang lebih optimal. Pembersihan ini tidak hanya menyegarkan mesin cuci tetapi juga mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan bau.

Baca juga: Haruskah Mencuci Handuk Baru Sebelum Memakainya?

Handuk tidak dikeringkan hingga tuntas 

Handuk adalah jenis kain yang tebal dan sangat menyerap air. Jika tidak dikeringkan dengan sempurna, sisa kelembapan bisa menjadi tempat tumbuhnya jamur dan bakteri. 

Akibatnya, handuk yang awalnya sudah bersih akan kembali berbau apek saat disimpan di lemari.

Solusinya, segera jemur atau keringkan handuk setelah dicuci. Pastikan handuk benar-benar kering sebelum dilipat dan disimpan. 

Jika menggunakan pengering, jangan terburu-buru mengambilnya. Pastikan kelembapannya benar-benar hilang. 

Baca juga: Mengapa Tidak Boleh Mencuci Handuk dan Pakaian Bersamaan?

Penggunaan softener yang berlebihan

Pelembut kain atau softener memang membuat tekstur handuk terasa halus dan wangi, tetapi efek jangka panjangnya justru tidak baik. 

Bahan pelembut meninggalkan lapisan lilin tipis di permukaan serat handuk, yang lama-kelamaan membuat handuk kehilangan daya serap dan menyulitkan air serta deterjen masuk ke dalam serat saat dicuci.

Ganti pelembut kain dengan cuka putih suling. Selain membuat handuk lebih lembut secara alami, cuka juga meluruhkan sisa sabun dan bakteri penyebab bau.

Baca juga: 4 Cara Menjaga Handuk Putih Tetap Cerah dan Lembut

Penumpukan deterjen 

Mengira bahwa lebih banyak deterjen akan menghasilkan cucian yang lebih bersih adalah kesalahan umum. 

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau