Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Kebiasaan yang Membuat Lantai Rumah Kotor meski Sudah Dibersihkan

Kompas.com, 23 Agustus 2025, 19:23 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

KOMPAS.com - Lantai rumah masih terasa kotor, bahkan lengket, meski telah membersihkannya.

Hal ini bisa terjadi bukan karena alat pembersih yang digunakan, melainkan kebiasaan yang dibangun seiring waktu yang membuat lantai semakin kotor setiap hari. 

Baca juga: Cara Membersihkan Lantai Rumah Berdasarkan Materialnya 

Para petugas kebersihan profesional mengatakan banyak dari kita tanpa sengaja memperburuk kondisi lantai melalui rutinitas sederhana sehari-hari. 

Mulai dari, melewatkan memakai keset hingga terlalu sering menggunakan produk pembersih, kesalahan kecil ini dapat menyebabkan kekacauan lebih besar.

Untungnya, hal ini dapat diatasi dengan melakukan perubahan kecil. Dilansir dari Homes and Gardens, Sabtu (23/8/2025), berikut sejumlah kesalahan yang membuat lantai rumah kotor meski sudah dibersihkan.  

Mengenakan sepatu luar ruangan di dalam ruangan

Ilustrasi sepatu.Unsplash/glenncarstenspeters Ilustrasi sepatu.
Menurut Matthew Baratta, Vice President di Daimer Industries, salah satu kebiasaan paling kotor adalah mengenakan sepatu luar ruangan di dalam ruangan.

"Sepatu membawa minyak, bakteri, dan pasir yang cepat mengikis lantai, terutama karpet dan lantai kayu keras," jelasnya.

Melewatkan keset pintu masuk juga tidak membantu dan merupakan salah satu dari banyak kesalahan umum dalam membersihkan rumah.

Tanpa keset untuk memerangkap kelembapan dan kotoran, kamu menyebarkan kotoran ke seluruh rumah di setiap langkah.

Veronica Smith dari Dallas Maids mengatakan keset yang bagus di setiap pintu dapat memerangkap hingga 95 peren kotoran, bahkan versi dasar pun hanya perlu dikibaskan atau disedot debu agar tetap efektif.

Kesalahan kecil, seperti tidak mengeringkan sepatu atau penempatan keset yang buruk, dapat membuat lantai tampak kusam.

Lantai kayu keras sangat rentan dan kebiasaan umum yang merusak lantai kayu sering kali disebabkan gesekan serta kotoran dari sepatu. 

Baca juga: Seberapa Sering Harus Mengepel Lantai Rumah? Ini Durasi dan Tandanya

Membiarkan tumpahan mengendap

Ilustrasi mengepel lantai dengan kain pel.SHUTTERSTOCK/VVOE Ilustrasi mengepel lantai dengan kain pel.
Selanjutnya, kesalahan yang membuat lantai rumah kotor meski sudah dibersihkan adalah membiarkan tumpahan mengendap. 

Sedikit percikan air mungkin tampak sepele, tetapi membiarkan tumpahan mengering dapat menyebabkan residu lengket yang menarik lebih banyak kotoran.

"Titik-titik lengket menjadi magnet bagi debu," kata Matthew, yang merekomendasikan  segera membersihkannya dengan kain mikrofiber atau kain pel basah.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau