Penulis
BREBES, KOMPAS.com – Banjir limpasan yang merendam jalur nasional di wilayah Brebes hingga enam jam pada arus mudik Lebaran lalu menjadi catatan merah bagi Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Menanggapi hal tersebut, Menteri PU Dody Hanggodo melakukan inspeksi ke titik kritis di Sungai Babakan dan ruas jalan Pejagan-Ketanggungan, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Nyetir Sendiri dari Kalikangkung ke Brebes, Menteri PU Puji Tol Trans Jawa Mulus
Menteri Dody menegaskan, persoalan utama yang memicu lumpuhnya jalur vital tersebut adalah sedimentasi sungai yang sudah masuk tahap mengkhawatirkan.
"Itu sedimentasinya secara sepintas kelihatan sudah parah sekali," ujar Dody saat meninjau lokasi terdampak.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang sering memulai penanganan dari hulu, Dody memerintahkan timnya untuk melakukan mitigasi secara terbalik: dari muara menuju hulu.
"Pengalaman kita di Aceh menunjukkan yang paling cepat itu muaranya diberesin dulu. Jarak dari sini ke muara tidak terlalu jauh. Kalau muara sudah dikejar, air bisa lebih cepat lari ke laut," tegasnya.
Baca juga: Tol Cisumdawu Retak, Lalu Lintas Tetap Aman Terkendali
Memurutnya, jika pengerukan dimulai dari belakang (hulu), air justru berisiko terbendung di hilir yang masih dangkal dan kotor.
Dody menekankan bahwa pembersihan muara harus diikuti dengan pembangunan jetty atau tanggul pengarah di sisi kanan dan kiri.
"Bukan hanya dibersihkan, tapi harus dibangun jetty supaya panas lumpur itu tidak kembali lagi ke dalam sungai, tapi tertahan oleh jetty itu. Teori saya, muara beres, air lancar. Baru kita ke belakang pelan-pelan," tambahnya.
Untuk diketahui, banjir Brebes dipicu elevasi Bendung Cisadap yang mencapai +5.50 atau 3 meter di atas normal. Dampaknya merendam 7 desa dan memutus arus mudik selama 6 jam.
Oleh karena itu Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung menyiapkan skema bangunan pengendali banjir yang mencakup kolam detensi di Desa Padakaton dan Kedawung.
Terdapat 9 paket pekerjaan, termasuk penguatan tebing sungai sepanjang 26 kilometer.
Baca juga: Mudik Lebaran, Jalur Palur-Sragen Dijamin Pemerintah Bebas Banjir
Untuk mengeksekusi rencana ini, pemerintah telah mengamankan pendanaan dari Bank Dunia melalui program pinjaman.
Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, menjelaskan total anggaran mencapai Rp 270 miliar.
"Anggaran Rp 270 miliar ini untuk paket normalisasi sungai plus pembetonan (lining). Jika bicara keseluruhan paket, mungkin selesai pada akhir 2028. Namun, khusus untuk sektor muara, kami targetkan selesai pada akhir 2026," lapor Dwi kepada Menteri PU.
Dody memberikan tenggat waktu ketat bagi pengerjaan muara agar mitigasi sudah terasa dampaknya pada musim penghujan pada akhir tahun 2026. Ia tidak ingin lagi melihat air melimpas hingga menenggelamkan aspal jalan nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang