Penulis
BREBES, KOMPAS.com – Di balik kemudi Alphard B 1975 UHT, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menjajal langsung aspal Tol Trans Jawa dari Kalikangkung hingga Brebes sepanjang 26,4 kilometer.
Misinya memastikan infrastruktur arus balik Lebaran tidak hanya "terlihat" siap, tapi memang laik secara teknis.
Dody memutuskan untuk menyetir sendiri bukan tanpa alasan. Dia ingin merasakan langsung dinamika kendaraan saat melintasi tiap sambungan jembatan dan bahu jalan Tol Trans Jawa.
Baca juga: Tol Cisumdawu Retak, Lalu Lintas Tetap Aman Terkendali
Secara umum, ia memuji kualitas jalan tol yang dikelola PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan operator lainnya, seperti Indonesia Investment Authority.
"Secara umum smooth, keren. Bahu jalan juga oke. Saya tadi sempat coba lewat bahu jalan untuk tes kualitasnya," kata Dody menjawab Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).
Namun, ia tidak menutup mata pada kekurangan jalan bebas hambatan berbayar ini. Dody menemukan beberapa titik yang masih bergelombang, dan rusak, terutama di ruas mendekati Exit Brebes dan sebelumnya beberapa titik di Tol Cipali.
"Ada beberapa titik dekat Brebes yang agak rusak di bagian jembatan, tapi tidak banyak. Sudah saya instruksikan untuk segera dibetulkan," imbuh Dody.
Selain memastikan kesiapab infrastruktur konektivitas, Dody juga meninjau langsung penanganan banjir rob di Brebes.
Menteri PU memberikan catatan tebal pada sektor drainase dan sedimentasi sungai yang sempat melumpuhkan jalur nasional dan mengganggu arus mudik hingga 6 jam lamanya.
Menurutnya, masalah klasik di kawasan Pantai Utara Jawa adalah limpasan air sungai ke jalan nasional saat hujan ekstrem.
Baca juga: 5 Hari Lebaran, Lalin Tol Sigli-Banda Aceh Meroket 324 Persen
Melihat kondisi Sungai Babakan yang sedimentasinya sudah sangat parah, Menteri PU menolak pendekatan konvensional yang biasanya dimulai dari pengerukan hulu.
"Pengalaman kita di Aceh menunjukkan yang paling cepat itu muaranya diberesin dulu. Kalau muara sudah dikejar, air bisa lebih cepat lari ke laut," tegas Dody.
Dody mengatakan, pengerjaan dari belakang (hulu) justru berisiko menimbulkan sumbatan baru di titik hilir yang sudah dangkal.
Baca juga: Hari Terakhir Manfaatkan Diskon Tarif Tol 30 Persen
Untuk itu, ia memerintahkan pembangunan jetty atau tanggul penahan di sisi kanan dan kiri muara yang berfungsi menahan agar lumpur tidak kembali masuk ke badan sungai setelah dikeruk.
"Jangan sampai sedimentasi ini meremehkan yang kecil-kecil, sementara yang gede-gede diputusin duluan. Teori saya, muara beres, air lancar. Baru kita ke belakang pelan-pelan," tambahnya.
Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, mengatakan proyek normalisasi ini dibiayai melalui pendanaan dari World Bank senilai Rp 270 miliar.
Baca juga: Rest Area KM 57 dan 62 Bikin Macet Mudik, Menteri PU Bakal Tata Ulang
"Kami akan melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk pembetonan dinding sungai dengan target penyelesaian akhir 2028," cetus Dwi.
Meskipun keseluruhan paket proyek ditargetkan selesai pada akhir 2028, Dody memberikan tenggat waktu khusus untuk sektor muara.
"Kalau bicara muara saja, akhir 2026 harus selesai. Kita mengejar supaya musim hujan di akhir tahun nanti tidak ada lagi air yang limpas ke jalan nasional," tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang