Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Bangunan Pertama di Dunia yang Menggunakan Semen Modern

Kompas.com, 28 Maret 2026, 14:31 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Beton modern menjadi tulang punggung pembangunan berbagai infrastruktur saat ini, mulai dari rumah hingga gedung pencakar langit. Namun, tahukah Anda bangunan apa yang pertama kali menggunakan teknologi semen beton modern?

Mengutip Science Museum, bangunan yang dianggap sebagai pelopor penggunaan beton kapur hidrolik modern pertama di dunia adalah Mercusuar Eddystone di Cornwall, Inggris.

Mercusuar ini diselesaikan pada tahun 1759 oleh John Smeaton, seorang insinyur yang berhasil "menemukan kembali" formula semen kuno yang dulunya dikembangkan orang Romawi.

Dalam proyek tersebut, Smeaton menggunakan campuran batu kapur dan tanah liat untuk menciptakan material yang mampu mengeras kuat serta tahan terhadap air laut. Inovasi ini menjadi langkah penting menuju lahirnya semen modern.

Awal Beton Bertulang dan Gedung Tinggi

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1853, ketika François Coignet membangun rumah pertama dari beton bertulang di St. Denis, Prancis.

Baca juga: Belum Ada Semen, Bagaimana Orang Zaman Dulu Membangun Kastil Megah?

Inovasi ini menjadi tonggak penting karena memperkenalkan konsep penguatan beton, yang kemudian menjadi dasar konstruksi modern seperti jembatan dan gedung bertingkat.

Memasuki abad ke-20, teknologi beton semakin berkembang pesat. Salah satu pencapaian penting adalah pembangunan Ingalls Building di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.

Gedung setinggi 16 lantai yang selesai pada 1903 ini dikenal sebagai gedung tinggi pertama di dunia yang menggunakan teknik beton bertulang modern.

Selain bangunan-bangunan tersebut, perkembangan beton modern tidak lepas dari kontribusi John Smeaton yang lebih dulu mengembangkan konsep kapur hidrolik.

Meski demikian, hak paten semen modern justru dimiliki oleh Joseph Aspdin pada tahun 1824. Ia menamai temuannya sebagai Semen Portland, karena warnanya menyerupai batu dari Pulau Portland di Inggris.

Dari segi komposisi, semen yang dikembangkan Aspdin masih menggunakan bahan utama yang sama, yaitu batu kapur dan tanah liat. Kedua bahan ini dihaluskan, dipanaskan pada suhu tinggi hingga membentuk material baru, lalu ditambahkan gips agar tidak langsung mengeras.

Meski telah mengalami berbagai penyempurnaan, prinsip dasar semen dan beton yang digunakan saat ini masih merujuk pada temuan para pelopor tersebut. 

Baca juga: Tahukah Kamu Siapa Orang Pertama yang Menggunakan Semen?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau