Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Arifda Ayu
Dosen

Seorang dosen dengan bidang ilmu fitopatologi

Jarak Pagar: Mimpi Lama Biofuel Indonesia

Kompas.com, 10 Maret 2026, 06:11 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI banyak desa di Indonesia, tanaman jarak pagar pernah tumbuh sebagai pagar hidup di tepi pekarangan atau kebun. Ia tidak memerlukan perawatan khusus, mampu bertahan di tanah yang kering, dan jarang diganggu ternak karena bijinya beracun.

Namun pada awal tahun 2000-an, tanaman sederhana ini tiba-tiba mendapat perhatian besar. Ia disebut-sebut sebagai harapan baru energi terbarukan Indonesia. Tanaman Jatropha curcas diyakini memiliki potensi besar sebagai bahan baku biodiesel. Biji jarak mengandung minyak nabati yang dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti solar.

Pada masa itu, gagasan tersebut tampak menjanjikan. Indonesia memiliki iklim tropis yang cocok untuk budidayanya, sementara kebutuhan energi nasional terus meningkat. Harapan terhadap jarak pagar bahkan pernah berkembang menjadi gerakan nasional. Banyak daerah mencoba menanamnya di lahan-lahan kering yang selama ini kurang produktif.

Konsepnya sederhana: tanaman energi yang tidak bersaing dengan pangan dan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat pedesaan.

Namun seperti banyak mimpi besar dalam pembangunan pertanian, perjalanan jarak pagar tidak selalu berjalan mulus. Dalam praktiknya, produktivitas tanaman ini sering kali tidak setinggi yang dibayangkan pada tahap awal.

Banyak kebun yang ditanam dengan antusias, tetapi kemudian tidak dikelola secara intensif karena pasar dan teknologi pengolahannya belum berkembang secara stabil. Di sisi lain, pengembangan biofuel ternyata tidak hanya bergantung pada potensi tanaman semata. Ia juga sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan energi.

Ketika harga minyak dunia berubah atau dukungan kebijakan melemah, minat terhadap tanaman energi seperti jarak pagar ikut meredup.

Baca juga: Manfaat Tanaman Jarak sebagai Energi Alternatif

Meski demikian, kisah jarak pagar tidak sepenuhnya berakhir sebagai kegagalan. Tanaman ini masih menyimpan sejumlah keunggulan agronomis yang menarik. Ia mampu tumbuh di lahan marginal, toleran terhadap kondisi kering, dan tidak bersaing langsung dengan tanaman pangan utama.

Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya lahan, sifat-sifat ini justru menjadi semakin relevan.

Bagi masyarakat pedesaan, tanaman seperti jarak pagar sebenarnya memiliki potensi sebagai sumber pendapatan tambahan dalam sistem pertanian yang beragam. Ia dapat ditanam sebagai pagar kebun, di lahan tidur, atau sebagai bagian dari sistem agroforestri yang menggabungkan tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan pohon kayu.

Di tengah upaya global untuk beralih menuju energi yang lebih bersih, biofuel kembali mendapat perhatian. Banyak negara mulai mencari sumber energi nabati yang lebih berkelanjutan dan tidak mengganggu ketahanan pangan.

Dalam konteks ini, jarak pagar dapat kembali dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai bagian dari mosaik sumber energi terbarukan.

Yang sering terlupakan adalah bahwa inovasi pertanian jarang berhasil hanya karena potensi biologis suatu tanaman. Ia membutuhkan ekosistem pendukung: riset yang berkelanjutan, teknologi pengolahan yang efisien, pasar yang stabil, serta kebijakan yang konsisten. Tanpa itu semua, tanaman sebaik apa pun akan sulit berkembang dalam skala luas.

Kisah jarak pagar pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran penting. Bahwa mimpi tentang energi masa depan tidak hanya soal menemukan tanaman yang tepat, tetapi juga tentang bagaimana membangun sistem yang mampu mendukungnya.

Di banyak sudut pedesaan Indonesia, jarak pagar mungkin masih tumbuh diam-diam di tepi kebun. Ia tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti dua dekade lalu. Namun keberadaannya mengingatkan kita bahwa gagasan tentang energi terbarukan pernah berakar pada tanaman sederhana yang tumbuh di halaman rumah.

Mungkin mimpi itu belum sepenuhnya selesai. Bisa jadi, ia hanya sedang menunggu waktu yang lebih tepat untuk tumbuh kembali.

Baca juga: Mengenal Tanaman Jarak, Tumbuhan Liar Kaya akan Minyak dan Manfaatnya

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau