Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Diana Putri
Dosen

Diana Putri adalah dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas Kampus III Dharmasraya dengan bidang keahlian Penyakit tanaman, khususnya serta pemanfaatan bakteri dan jamur endofit sebagai agen pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman

Membaca Alam dari Capung yang Terbang

Kompas.com, 30 Maret 2026, 12:29 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI atas permukaan sawah, kolam, atau aliran sungai yang jernih, capung sering terlihat beterbangan dengan gerakan lincah.

Bagi sebagian orang, kehadirannya mungkin sekadar hiasan alam. Namun bagi para ilmuwan, capung adalah “penjaga sunyi” yang membawa pesan penting: kondisi lingkungan di sekitarnya.

Capung bukan hanya serangga biasa. Ia dikenal sebagai bioindikator, organisme yang keberadaannya dapat mencerminkan kualitas lingkungan. Dalam kajian ekologi, organisme seperti capung digunakan untuk menilai kesehatan suatu ekosistem tanpa harus selalu bergantung pada alat ukur yang rumit.

Baca juga: Kian Jarang Llihat Capung? Dosen UGM Peringatkan Ini

Hidup di Dua Dunia

Keistimewaan capung terletak pada siklus hidupnya. Dalam fase larva (nimfa), capung hidup di air—di sungai, danau, atau sawah. Setelah dewasa, ia berpindah ke udara. Siklus ini membuat capung sangat sensitif terhadap perubahan di dua habitat sekaligus: air dan darat.

Jika kualitas air buruk—tercemar limbah, pestisida, atau kekurangan oksigen—larva capung sulit bertahan hidup. Sebaliknya, jika lingkungan masih bersih dan seimbang, populasi capung biasanya melimpah.

Karena itu, kehadiran capung sering menjadi tanda bahwa ekosistem perairan masih dalam kondisi baik.

Baca juga: Capung Sudah Ada Sejak Zaman Dinosaurus, Kini Mereka Terancam

Penanda Kualitas Air

Dalam konteks bioindikator, capung memiliki nilai penting sebagai penunjuk kualitas air. Tidak semua jenis capung mampu hidup di lingkungan yang tercemar. Beberapa spesies hanya ditemukan di perairan yang bersih dan kaya oksigen. Jika spesies sensitif ini hilang, itu bisa menjadi sinyal awal bahwa lingkungan mulai mengalami degradasi.

Sebaliknya, jika yang tersisa hanya spesies yang tahan terhadap polusi, maka kondisi lingkungan patut diwaspadai.

Baca juga: Capung Bisa Bantu Ungkap Cara Merkuri Cemari Alam

Dampak Aktivitas Manusia

Perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia menjadi ancaman utama bagi keberadaan capung. Pencemaran air oleh limbah domestik dan industri, penggunaan pestisida berlebihan, serta alih fungsi lahan dapat merusak habitat alami capung.

Dalam kajian entomologi, penurunan populasi capung sering dikaitkan dengan menurunnya kualitas habitat. Ini bukan hanya masalah bagi capung, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Capung berperan sebagai predator alami bagi berbagai serangga kecil, termasuk nyamuk. Jika populasinya menurun, maka keseimbangan rantai makanan juga terganggu.

Baca juga: Fakta-fakta Menarik Capung, Serangga Pemakan Nyamuk

Lebih dari Sekadar Serangga

Selain sebagai indikator, capung juga memiliki peran ekologis yang penting. Ia membantu mengendalikan populasi hama dan serangga vektor penyakit. Dalam ekosistem pertanian, kehadiran capung dapat menjadi “sekutu alami” bagi petani.

Pendekatan pertanian ramah lingkungan bahkan mulai mempertimbangkan konservasi serangga bermanfaat seperti capung sebagai bagian dari sistem pengendalian hayati.

Baca juga: Apakah Capung Memakan Nyamuk?

Membaca Tanda dari Alam

Sering kali, tanda-tanda kerusakan lingkungan muncul secara halus, tanpa disadari. Hilangnya capung dari suatu kawasan bisa menjadi peringatan dini yang luput dari perhatian. Padahal, memahami indikator alami seperti capung dapat membantu manusia mengambil langkah lebih cepat sebelum kerusakan menjadi semakin parah.

Dalam perspektif agroekologi, menjaga keberagaman hayati termasuk capung bukan hanya soal konservasi, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan dan pertanian.

Melindungi capung berarti menjaga kualitas air, mengurangi pencemaran, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Upaya sederhana seperti mengurangi penggunaan bahan kimia berlebihan dan menjaga kebersihan sumber air dapat memberikan dampak besar.

Capung mungkin kecil dan sering diabaikan. Namun, keberadaannya menyimpan makna besar. Ia adalah penanda, pengingat, sekaligus penjaga keseimbangan alam. Jika capung masih menari di udara, itu pertanda alam masih baik-baik saja. Jika tidak, mungkin saatnya kita mulai bertanya: apa yang telah berubah?

Baca juga: Warna Sayap Capung Jantan Jadi Memudar Karena Dampak Perubahan Iklim

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau