
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PANGGUNG Liga Champions Eropa (UCL) musim 2025/2026, menyisakan kisah tentang pilu dan kebahagiaan setelah menyelesaikan delapan laga di leg kedua.
Pertama, petualangan FK Bodo/Glimt yang menyengat di akhir babak liga serta play-off berakhir muram. Klub dari lingkaran Arktik asal Norwegia itu terhenti di babak 16 besar.
Tampil perkasa di leg pertama dengan surplus tiga gol, Bodo/Glimt harus mengakui kekuatan Sporting CP di Lisbon, Portugal lewat perpanjangan waktu.
Sporting unggul dua bola di extra time sehingga menang 5-0 serta menghimpun agregat 5-3. Bodo/Glimt menjadi satu di antara pemenang leg pertama yang terkena comeback.
Galatasaray sempat menang 1-0 atas The Reds di leg pertama, tapi digunduli Mohamed Salah dkk 4-0 di stadion Anfield sehingga tersingkir.
Kedua, klub-klub yang melakoni leg pertama di kandang, mayoritas digdaya dan lolos ke perempat final Liga Champions.
Paris Saint-Germain, Real Madrid serta Atletico Madrid tak tertahan meski harus berkunjung ke Stamford Bridge, stadion Etihad serta stadion Tottenham Hotspur.
Kebetulan PSG, Madrid serta Atletico menang dengan selisih tiga gol atas Chelsea, Manchester City dan Spurs di leg pertama. Dan jangan kaget, tiga klub ini harus melalui play-off dulu untuk main di 16 besar Liga Champions.
Di leg kedua, PSG kembali menggasak Chelsea 3-0 sehingga memberi rekor buruk kepada klub yang diarsiteki pelatih rada 'ingusan', Liam Rosenior itu.
PSG menang dua kali dengan agregat 8-2. Luis Enrique membayar lunas dendam PSG di final Piala Dunia Antarklub, Juli 2025 lalu.
Real Madrid menunjukkan jati dirinya sebagai Raja Eropa. Diasuh pelatih karbitan, Alvaro Arbeloa, Madrid mengempaskan City dalam dua leg dengan agregat 5-1.
Pep Guardiola tertunduk. Musim ini DNA juara Guardiola tak berguna ketika berhadapan dengan Madrid. Ini bukan kebetulan, sebab musim ini Bernardo Silva dkk masih angin-anginan.
Cerita Spurs juga sama dengan Chelsea dan City. Dibekuk Atletico 2-5 di leg pertama, Spurs mencoba membayarnya di kandang.
Spurs telah mati-matian menggempur tim yang diracik Diego Simeone, tapi Spurs cuma unggul 3-2 di leg kedua.
Pelatih Spurs, Igor Tudor harus menyesali keputusannya menurunkan kiper Antonin Kinsky yang bikin dua blunder horor di leg pertama. Cerita Spurs di panggung Liga Champions pun tutup buku.
Ketiga, klub paling konsisten di babak liga, yakni Arsenal dan Bayern Munchen, menikmati periode 'enak main bola'. Munchen paling stabil dengan menenggelamkan satu wakil Italia tersisa, Atalanta, dengan agregat 10-2.
Jika klub yang ditangani Vincent Kompany ini, menang mudah, Arsenal mesti mengerahkan segala kemampuan untuk merobohkan Bayer Leverkusen.
Ditahan 1-1 di leg pertama, Meriam London memastikan lolos setelah menang 2-0 di stadion Emirates, London.