Editor Travel & Food
Penulis: Gian Felanroe Pardamean Sitorus
Mahasiswa S2 Universitas Sahid Jakarta
KOMPAS.com - Ada masa ketika memahami budaya lain membutuhkan perjalanan panjang. Melalui tiap lembar halaman buku tebal hingga interaksi tatap muka yang penuh kehati-hatian.
Namun kini, perjumpaan antarbudaya terjadi dalam ruang selebar telapak tangan. Ia hadir lewat komentar acak di TikTok dan Instagram, candaan sarkastik di Twitter, emoji tanpa nada suara, atau pesan WhatsApp yang kerap meninggalkan makna menggantung.
Kita hidup di era ketika satu kalimat dapat melintasi benua dalam hitungan detik dan menimbulkan salah paham dengan kecepatan yang sama.
Baca juga: 5 Bandara Utama Indonesia Ditargetkan Berkonsep Alam dan Budaya pada 2026, Mana Saja?
Interaksi global yang dahulu bersifat eksklusif kini menjadi pengalaman massal. Tanpa memandang usia, kelas sosial, atau tingkat pendidikan, setiap orang bergerak lintas budaya melalui perangkat digital.
Namun, di titik inilah kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu nyaman: keterhubungan yang semakin luas tidak selalu sejalan dengan kemampuan memahami satu sama lain.
Gian Felanroe Pardamean Sitorus, Mahasiswa S2 Universitas Sahid Jakarta sekaligus praktisi komunikasi, menelusuri bagaimana ruang digital mengubah komunikasi antarbudaya, mengapa salah paham kian mudah terjadi, serta apa yang dapat dipelajari agar manusia tetap bijak di tengah dunia global yang rapuh oleh bias, algoritma, dan ambiguitas makna:
Internet telah melahirkan demokratisasi perjumpaan antarbudaya. Kita tidak lagi membutuhkan visa atau pertukaran pelajar untuk mengenal cara orang Korea menyapa, cara orang Barat berargumen, atau cara orang Jepang mengekspresikan ketidaksetujuan.
Baca juga: Bunga Bangkai Raksasa Bakal Mekar di Kebun Raya Bogor Setelah 6 Tahun, Ini Cara Lihatnya
Dalam satu hari, lanjutnya, seseorang bisa bersentuhan dengan puluhan kultur melalui video pendek, meme, ulasan produk, hingga diskusi daring yang tak pernah berhenti.
Namun, globalisasi digital bersifat paradoks. Ia memudahkan perjumpaan, tetapi tidak menyediakan seperangkat aturan bersama untuk memahaminya. Humor di satu budaya dapat menjadi penghinaan di budaya lain. Kejujuran bisa dibaca sebagai agresi. Kesopanan justru dianggap manipulatif atau tidak tegas.
Masalahnya bukan sekadar bahasa, melainkan perbedaan mentalitas, struktur nilai, sejarah sosial, dan cara manusia membaca dunia.
Antropolog Edward T. Hall membagi budaya ke dalam kategori high-context dan low-context. Budaya high-context, seperti Indonesia, Jepang, dan Korea, mengandalkan banyak makna tersirat. Sebaliknya, budaya low-context, seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jerman, menekankan makna pada kata-kata eksplisit.
Ketika dua dunia ini bertemu di kolom komentar media sosial, kesalahpahaman nyaris tak terelakkan. Di sinilah babak baru miskomunikasi global dimulai.
Baca juga: Brutalitas Kekerasan dan Titik Nadir Komunikasi Pendidikan
Sebagai contoh, di banyak negara Barat, memanggil orang yang lebih tua dengan nama depan adalah hal lazim dan tidak dianggap tidak sopan. Sementara di Indonesia, yang menganut budaya kolektif vertikal, penggunaan sapaan seperti Pak, Bu, Mas, atau Mbak merupakan bentuk penghormatan yang melekat kuat pada struktur sosial.
Perbedaan inilah yang seharusnya dimaknai secara lebih komprehensif, bukan sekadar dikonsumsi lalu dihakimi. Tanpa pemahaman konteks, bias makna mudah menggiring pada salah persepsi.
Ilustrasi pesan singkat, mengirim pesan singkat. Dalam komunikasi tatap muka, manusia mengandalkan kata, nada suara, dan bahasa tubuh. Di ruang digital, dua unsur terakhir itu hilang. Yang tersisa hanyalah teks yang dingin dan terbuka untuk ditafsirkan.
Satu kata seperti “Really?” bisa bermakna kagum, ragu, sinis, atau marah—tergantung latar budaya dan pengalaman pembacanya. Di sinilah ruang digital berubah menjadi arena tebak-tebakan makna.
“Ruang digital menghidupkan kembali permainan tebak-menebak makna,” dan tidak semua orang menyadari bahwa mereka sedang memainkannya.
Ketika informasi budaya terbatas, manusia cenderung mengganti kekosongan itu dengan asumsi, emosi, atau bias pribadi.
Baca juga: Tradisi Labuhan Sarangan Magetan jadi Warisan Budaya Takbenda
Banyak orang mengira konten yang muncul di media sosial adalah pilihan pribadi. Padahal, algoritma berperan besar mengurasi apa yang dilihat pengguna.
Jika seseorang tertarik pada satu budaya, algoritma akan membanjirinya dengan konten serupa. Jika bereaksi negatif pada budaya lain, algoritma akan menyajikan lebih banyak contoh ekstrem yang memperkuat prasangka.
Tanpa disadari, manusia terjebak dalam echo chamber budaya. Kita mengenal budaya lain bukan melalui spektrum yang utuh, melainkan potongan-potongan yang paling memancing emosi. Dalam situasi seperti ini, miskomunikasi bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan yang dirancang sistem.
Humor adalah salah satu bentuk komunikasi paling sulit diterjemahkan lintas budaya. Sarkasme, misalnya, sering dianggap cerdas di Barat, tetapi dapat dipahami sebagai sindiran atau penghinaan di banyak masyarakat Asia.
Ketika meme bersarkasme viral dan keluar dari konteks budaya asalnya, benturan persepsi pun muncul. Komentar sinis dibalas defensif, lalu berkembang menjadi konflik digital.
Identitas pun menjadi rapuh. Ekspresi individu cepat digeneralisasi menjadi label kolektif: “orang Korea itu…”, “orang Indonesia kok…”, “orang Barat selalu…”. Globalisasi digital yang seharusnya memperluas pemahaman, justru kerap menyempitkannya.
Baca juga: Cendikiawan Pariwisata Sarankan Pemerintah Kembangkan Wisata Lansia di Indonesia
Di balik polarisasi, internet juga menjadi jembatan antarbudaya paling efektif yang pernah ada. Melalui vlog perjalanan, komunitas daring, gim, forum belajar, dan ruang diskusi lintas negara, manusia kini dapat berinteraksi langsung dengan budaya yang dulu hanya dikenal lewat buku atau televisi.
Anak muda Indonesia belajar budaya Jepang melalui anime. Remaja Korea mengenal budaya Arab lewat konten kreator. Mahasiswa Eropa mengenal Indonesia lewat kuliner Nusantara yang viral.
Ruang digital melahirkan budaya hibrida—bahasa bercampur, gaya bercerita saling mempengaruhi, dan identitas menjadi cair. Dalam sudut pandang tertentu, internet adalah laboratorium global evolusi budaya.
Ilustrasi media sosial. Ahli komunikasi antarbudaya William Gudykunst menyebut interaksi sehat bergantung pada kemampuan mengelola kecemasan dan ketidakpastian. Di dunia digital, keduanya meningkat karena minimnya isyarat nonverbal.
Artinya, komunikasi lintas budaya kini menuntut keterampilan baru: membaca konteks, menunda reaksi emosional, bertanya alih-alih menyerang, menyadari bias pribadi, serta memahami bahwa niat tidak selalu tercermin utuh dalam teks.
Komunikasi antarbudaya di era digital bukan lagi soal mengetahui banyak budaya, melainkan mengelola pikiran dan emosi saat berhadapan dengan perbedaan.
Apakah dunia akan semakin harmonis atau makin retak? Jawabannya belum pasti. Teknologi mempertemukan manusia, tetapi tidak menjamin pemahaman.
Namun, ada alasan untuk optimistis. Semakin sering manusia berinteraksi lintas budaya, semakin besar peluang menjadi adaptif. Dunia digital memaksa kita belajar bahasa baru—bahasa multikultural yang tidak berpijak pada satu tradisi.
Mungkin, pada akhirnya, manusia perlu memperlambat interpretasi: membaca niat sebelum kata, memahami budaya sebelum menghakimi ekspresi.
“Ketika dunia menjadi semakin terhubung, kita tidak hanya perlu belajar berbicara, tetapi juga belajar memahami.”
Internet hanyalah cermin besar. Ia memantulkan cara berpikir, cara memperlakukan perbedaan, dan cara memaknai sesama. Jika masa depan komunikasi global ingin lebih damai, tanggung jawab itu bukan pada teknologi, melainkan pada manusia yang menggunakannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang