Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
IdeAksi
IdeAksi adalah platform kolaboratif insan pelajar dan sivitas akademika untuk berbagi ide, menyalurkan inovasi, menunjukkan aksi nyata, serta merayakan prestasi. Di sinilah ruang generasi muda berkumpul, saling menginspirasi, berkolaborasi, dan menciptakan perubahan.

Banjir dan Tubo Hantam Maninjau, Mahasiswa Untidar Sulap Nila Jadi Produk Bernilai

Kompas.com, 18 Maret 2026, 15:15 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor Edukasi

Oleh Asna Zahra Faradis*

KOMPAS.com - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir tahun 2025 turut berdampak pada kawasan Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Selain menurunkan kualitas air, kondisi tersebut juga memperparah fenomena tubo, yaitu naiknya gas belerang dari dasar danau yang menyebabkan kematian ikan secara massal.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sebanyak 52 mahasiswa Universitas Tidar turun langsung membantu masyarakat di Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, pada 1 - 28 Februari 2026.

Mahasiswa yang tergabung dalam tim SAPA MANINJAU membawa 5 sub program dengan 3 program utama yang menjadi fokus kegiatan, yaitu penerapan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid, diversifikasi pangan lokal berbasis hasil perikanan, serta instalasi sistem filtrasi air bersih.

Salah satu fokus program adalah pengolahan ikan nila di Danau Maninjau yang semula hanya dikonsumsi segar menjadi abon ikan dan tepung tulang ikan kaya kalsium.

“Kami melihat potensi ikan nila di sini sangat besar. Ketika terjadi fenomena tubo, banyak ikan tidak termanfaatkan. Karena itu kami mencoba menghadirkan inovasi agar ikan bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Azlin, salah satu mahasiswa Untidar yang terlibat proyek ini.

Dalam uji produksi awal, 15 kilogram ikan nila dan 5 kilogram pepaya muda berhasil diolah menjadi 34 kemasan abon berukuran 100 gram.

Pada produksi kedua, 24 kilogram ikan nila menghasilkan 36 kemasan abon.

Secara perhitungan kapasitas, produksi ini berpotensi menghasilkan sekitar 544 kemasan abon ikan nila per bulan jika dilakukan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Baca juga: Kisah 6 Mahasiswa Umsura Asal Yaman, Tak Bisa Mudik Lebaran karena Konflik Timur Tengah

Selain itu, limbah tulang ikan juga dimanfaatkan menjadi tepung tulang ikan.

Dari sekitar 39 kilogram bahan baku ikan nila, tim mahasiswa menghasilkan sekitar 702 gram tepung tulang ikan yang berpotensi digunakan sebagai bahan tambahan pangan seperti kerupuk, bakso, atau biskuit.

Konsep ini sekaligus menerapkan prinsip zero waste dalam pengolahan hasil perikanan.

Program ini juga melibatkan ibu-ibu PKK sebagai mitra produksi melalui pelatihan pengolahan ikan, pengemasan, pemanfaatan limbah minyak menjadi lilin, hingga pemasaran produk.

Abon ikan yang dihasilkan mulai diperkenalkan ke beberapa pusat oleh-oleh di kawasan Maninjau dan Bukittinggi.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau