Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Jadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?

Kompas.com, 30 Maret 2026, 12:07 WIB
Alinda Hardiantoro,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

Sebagai gambaran, satu truk hanya mampu mengangkut sekitar 100 hingga 700 barel per hari, sehingga dibutuhkan ribuan truk untuk menggantikan volume distribusi skala besar, yang juga berisiko menjadi sasaran serangan.

Baca juga: Iran: Soal Selat Hormuz, Dunia Silakan Minta Pertanggungjawaban ke AS dan Israel

Mengenal jalur pipa timur-barat Arab Saudi

Jalur pipa timur-barat Arab Saudi, yang juga dikenal sebagai Petroline, merupakan salah satu dari sedikit infrastruktur yang memungkinkan ekspor minyak tanpa melalui Selat Hormuz.

Pipa ini dioperasikan oleh Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari 1,7 triliun dollar AS dan pendapatan tahunan sekitar 480 miliar dollar AS.

Aramco sendiri menguasai sekitar 12 persen produksi minyak global dengan kapasitas lebih dari 12 juta barel per hari.

Secara geografis, pipa ini membentang sepanjang sekitar 1.200 kilometer, dari fasilitas pengolahan minyak di Abqaiq di wilayah Teluk menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Namun, kapasitas maksimalnya tetap terbatas. Dari total kemampuan sekitar 7 juta barel per hari, hanya sekitar 5 juta barel yang saat ini dapat diekspor, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.

Aliran minyak meningkat, risiko tetap ada

Sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, Arab Saudi telah meningkatkan pemanfaatan jalur pipa ini secara signifikan.

Data Kpler menunjukkan bahwa aliran minyak yang sebelumnya hanya sekitar 770.000 barel per hari pada Januari–Februari, meningkat menjadi sekitar 2,9 juta barel per hari pada 24 Maret 2026.

Meski demikian, penggunaan jalur ini juga menghadapi ancaman lain, terutama dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran.

Kelompok tersebut sebelumnya telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah, menyebabkan gangguan besar pada pelayaran global selama konflik Gaza 2023–2025.

Selain itu, potensi ancaman juga membayangi Selat Bab al-Mandeb, yakni jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Seorang pemimpin Houthi bahkan menyatakan kelompoknya siap kembali melancarkan serangan di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran.

“Kami sepenuhnya siap secara militer dengan semua opsi. Soal waktu, itu bergantung pada pimpinan,” ujarnya, dikutip Reuters.

Ketergantungan dunia masih tinggi

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2024.

Dari jumlah tersebut, 14 juta barel merupakan minyak mentah dan kondensat, sementara 6 juta barel lainnya adalah produk petroleum.

Dengan kapasitas yang jauh lebih kecil, jalur pipa timur-barat Arab Saudi jelas belum mampu menggantikan peran strategis Selat Hormuz dalam perdagangan energi global.

Dengan demikian, meskipun menjadi solusi sementara, jalur alternatif ini belum cukup untuk menutup dampak gangguan pada salah satu jalur energi terpenting di dunia tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau