Penulis
Seorang responden Gen Z mengatakan tekanan biaya hidup memengaruhi kondisi mentalnya.
Ilustrasi“Cicilan perumahan saya telah meningkat beberapa kali tahun ini dan harga bahan makanan menjadi sangat mahal. Tanpa kenaikan gaji, saya harus menggunakan sebagian besar gaji dua mingguan saya untuk membayar tagihan dan bahan makanan, dan saya tidak dapat menabung sebanyak yang saya butuhkan,” kata responden perempuan Gen Z.
Responden milenial lainnya juga menyoroti dampak tekanan ekonomi terhadap kesehatan mental.
Baca juga: Dukung Kesehatan Mental, FWD Insurance Hadirkan Layanan Gratis FWD Mind Strength
“Biaya hidup terkait dengan banyak faktor yang secara langsung memengaruhi kebutuhan sehari-hari serta kesehatan fisik dan mental warga. Inflasi dan kenaikan harga membebani rumah tangga, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, dan akibatnya mereka kekurangan kebutuhan pokok. Selain itu, kenaikan biaya hidup juga berdampak buruk pada kesehatan mental karena orang-orang khawatir tentang kelangsungan hidup mereka sendiri dan masa depan anak-anak mereka,” ujar responden milenial laki-laki.
Kesejahteraan mental memiliki korelasi langsung dengan tingkat kebahagiaan di tempat kerja. Deloitte menemukan di antara Gen Z yang memiliki kesehatan mental baik, sebanyak 62 persen merasa bahagia.
Namun angka tersebut turun drastis menjadi hanya 19 persen di antara mereka yang memiliki kesehatan mental buruk.
Pola serupa terlihat pada milenial. Sebanyak 67 persen milenial dengan kesehatan mental baik merasa bahagia, dibandingkan hanya 20 persen dari mereka yang memiliki kesehatan mental buruk.
Baca juga: Quiet Promotions, Fenomena Promosi Tanpa Kenaikan Gaji yang Picu Burnout
Survei juga menunjukkan dukungan organisasi terhadap kesehatan mental memainkan peran penting.
Gen Z dan milenial yang merasa perusahaan mendukung kesehatan mental mereka lebih mungkin melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.
Selain itu, kepuasan terhadap work-life balance dan peluang pengembangan karier juga berkorelasi kuat dengan kesejahteraan mental yang lebih baik.
Zodiak yang Rentan Burnout di KantorLingkungan kerja menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan mental Gen Z dan milenial.
Baca juga: Ironi Pekerja Indonesia: Bahagia tetapi Dihantui Burnout
Deloitte mencatat, jam kerja panjang, kurangnya pengakuan, dan lingkungan kerja yang tidak sehat menjadi pemicu stres utama bagi kedua generasi tersebut.
Gen Z dan milenial juga merasa manajer mereka belum sepenuhnya mendukung kesejahteraan mental. Mereka berharap manajer dapat memberikan bimbingan, dukungan, dan membantu menjaga keseimbangan hidup dan kerja.
Namun, banyak responden merasa manajer lebih fokus pada pengawasan tugas sehari-hari daripada mendukung pengembangan dan kesejahteraan karyawan.
Seorang responden Gen Z menggambarkan dampak kepemimpinan terhadap kesejahteraan mental dan perkembangan profesionalnya.
Baca juga: Fresh Graduate, Pahami Soal Burnout dan Budaya Kerja