Penulis
CEO Randstad Sander van ’t Noordende menyampaikan, Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi besar.
Ilustrasi bekerja di kantor. “Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi, bukan hanya menanggapi perubahan, tetapi juga mendorongnya. Mereka ambisius, mudah beradaptasi, dan mencari pertumbuhan," tutur van 't Noordende.
Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan
"Perusahaan yang ingin mempertahankan mereka harus memikirkan kembali cara mereka merancang karier awal dan membangun kepercayaan melalui tujuan dan kemajuan," imbuh dia.
Pernyataan tersebut menegaskan mobilitas Gen Z terjadi dalam konteks perubahan struktural yang lebih luas, termasuk transformasi digital, perubahan model bisnis, serta dinamika global pascapandemi.
Menurut laporan tersebut, perusahaan yang ingin mempertahankan talenta Gen Z perlu merancang ulang peran entry-level agar menjadi batu loncatan pertumbuhan yang nyata, bukan sekadar posisi administratif awal.
Dengan berkurangnya lowongan kerja entry-level dan meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan digital, generasi Z menghadapi tantangan ganda.
Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya
Di satu sisi, mereka dituntut memiliki kemampuan teknologi dan adaptasi tinggi. Di sisi lain, akses terhadap pengalaman kerja formal pertama menjadi lebih terbatas.
Laporan tersebut menunjukkan percepatan otomatisasi dan penggunaan AI berkontribusi terhadap penyusutan beberapa peran awal yang sebelumnya menjadi titik masuk karier.
Situasi ini mendorong Gen Z untuk lebih proaktif membangun kompetensi secara mandiri, termasuk melalui kursus daring, proyek independen, dan pengalaman kerja fleksibel.
Dalam laporan tersebut, Randstad mengidentifikasi beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan pemberi kerja atau perusahaan.
Ilustrasi bekerja.Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antara ekspektasi generasi Z dan realitas pasar kerja.
Temuan dalam The Gen Z Workplace Blueprint menunjukkan pola karier Gen Z cenderung lebih dinamis dan non-linear dibanding generasi sebelumnya.
Durasi kerja yang lebih pendek, kecenderungan memiliki lebih dari satu sumber penghasilan, serta penggunaan AI dalam pengembangan diri menjadi ciri utama.
Namun, dinamika tersebut berlangsung di tengah pasar kerja yang mengalami kontraksi pada level awal, sehingga kompetisi untuk mendapatkan pengalaman pertama semakin ketat.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Laporan tersebut menekankan, perubahan ini bukan sekadar persoalan preferensi individu, melainkan hasil interaksi antara aspirasi generasi baru dan transformasi struktural pasar tenaga kerja global.
Dengan analisis berbasis jutaan data lowongan kerja dan ribuan responden lintas negara, Randstad memotret Gen Z sebagai tenaga kerja yang ambisius, adaptif, dan berorientasi pada pertumbuhan, di tengah lingkungan kerja yang terus berubah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang