Penulis
Angka ini memperlihatkan dinamika tenaga kerja muda yang relatif cair. Di tengah keterbatasan lowongan kerja entry-level, Gen Z tetap menunjukkan kecenderungan untuk terus mengeksplorasi peluang baru.
Ilustrasi perempuan yang bekerja keras. Para ahli kesehatan mental mengungkap tujuh kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari bisa mengganggu kebahagiaan dan kualitas hidup.Baca juga: Survei Deloitte: Biaya Hidup Jadi Sumber Stres Finansial Gen Z dan Milenial
Menurut Van ’t Noordende, kondisi ini memerlukan respons yang lebih kolaboratif dari pemberi kerja.
“Dalam kondisi kekurangan bakat (talent scarcity), pemberi kerja harus mengambil langkah untuk lebih baik menarik dan mempertahankan talenta muda. Ini berarti mengadopsi pendekatan kolaboratif, bekerja bersama generasi ini untuk menetapkan jalur karier yang inspiratif,” ujar dia.
Laporan World Economic Forum tersebut menyoroti sejumlah pendekatan yang dinilai relevan bagi perusahaan untuk merespons dinamika ini.
Pertama, perusahaan didorong untuk merancang jalur karier yang jelas dengan tahapan yang terukur, sehingga talenta muda dapat melihat arah perkembangan profesional mereka.
Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja
Kedua, investasi dalam pengembangan awal karier, termasuk pelatihan dan pembelajaran berbasis teknologi, dinilai penting untuk meningkatkan retensi karyawan muda.
Ketiga, penerapan metode pembelajaran modern yang memanfaatkan AI dan teknologi digital menjadi bagian dari strategi untuk menyesuaikan kebutuhan generasi digital native.
Langkah-langkah tersebut dinilai dapat membantu perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif, sekaligus menjawab ekspektasi Gen Z terhadap perkembangan karier.
Secara keseluruhan, data menunjukkan perjalanan awal karier Gen Z berlangsung di tengah tekanan ganda: berkurangnya lowongan entry-level dan meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan teknologi.
Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos
Meskipun generasi ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuan mereka serta ambisi masa depan, realitas pasar kerja yang kompetitif dan transformasi digital menghadirkan tantangan tersendiri.
Ilustrasi bekerja di kantor. Dengan rata-rata masa kerja 1,1 tahun dalam lima tahun pertama, tingginya angka pencarian kerja aktif sebesar 54 persen, serta penurunan 29 poin persentase lowongan entry-level sejak Januari 2024, lanskap awal karier Gen Z tampak berbeda secara signifikan dibanding generasi sebelumnya.
Laporan tersebut menegaskan bahwa perubahan ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi dan disrupsi teknologi yang lebih cepat dibanding periode-periode sebelumnya.
“Masuk ke dunia kerja pada masa perubahan besar,” ujar Van ’t Noordende, menggambarkan konteks yang melingkupi generasi ini.
Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan
Data dan temuan tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika yang sedang berlangsung di pasar tenaga kerja global, khususnya bagi generasi termuda yang kini mulai mendominasi angkatan kerja.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang