Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penetrasi Baru 22 Persen, Perbankan Syariah RI Masih Punya Ruang Tumbuh

Kompas.com, 13 Maret 2026, 21:26 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, meski industri ini menunjukkan tren ekspansi dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan terbaru perusahaan riset pasar Ravenry bertajuk Sharia Banking in Indonesia 2025 mencatat hingga akhir 2025, pangsa perbankan syariah baru berada di kisaran 7 hingga 8 persen dari total aset perbankan nasional.

Temuan tersebut muncul di tengah populasi Muslim Indonesia yang mencapai lebih dari 240 juta orang.

Baca juga: Menurut Maruf Amin, Ini yang Harus Dibenahi agar Perbankan Syariah Tidak Mahal Seperti Kata Purbaya

Ilustrasi bank. SHUTTERSTOCK/ANTON_AV Ilustrasi bank.

Ravenry dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (13/3/2026) menilai, meski industri perbankan syariah terus berkembang, penetrasi pasar secara keseluruhan masih belum optimal dan belum sepenuhnya mencerminkan potensi demografis yang ada.

Dalam laporan tersebut disebutkan, total aset perbankan syariah meningkat dari sekitar 40,7 miliar dollar AS pada 2020 menjadi sekitar 64,9 miliar dollar AS pada 2025.

Pertumbuhan ini setara dengan kenaikan tahunan rata-rata sekitar 11,8 persen dalam lima tahun terakhir.

Salah satu perubahan struktural penting yang terjadi pada periode tersebut adalah pembentukan Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 2021.

Baca juga: Dikritik Purbaya, OJK Akui Biaya Perbankan Syariah di RI Masih Tinggi

Saat ini, bank tersebut diperkirakan menguasai sekitar 55 persen pangsa pasar perbankan syariah nasional.

Distribusi nasabah belum merata

Selain dari sisi aset, Ravenry juga menyoroti perkembangan jumlah nasabah. Laporan tersebut mencatat sekitar 54 juta orang atau sekitar 22 persen dari populasi Muslim Indonesia telah menjadi nasabah bank syariah.

Meski demikian, distribusi nasabah masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Sekitar 77 persen nasabah bank syariah berada di Pulau Jawa.

Kondisi ini menunjukkan, pertumbuhan industri masih terpusat di kawasan ekonomi utama, sementara potensi ekspansi di luar Jawa dinilai masih terbuka lebar.

Ilustrasi keuangan syariah, ekonomi syariah.SHUTTERSTOCK/YURIY K Ilustrasi keuangan syariah, ekonomi syariah.

Baca juga: Biaya Haji Turun, OJK: Peluang Perbankan Syariah Perkuat Ekosistem Keuangan

Menurut Ravenry, tantangan distribusi ini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pertumbuhan industri ke depan.

Penetrasi layanan yang lebih merata dinilai akan berpengaruh terhadap kemampuan bank syariah menjangkau segmen masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan formal berbasis syariah.

Laporan tersebut juga menilai bahwa pendekatan pengembangan industri tidak lagi cukup mengandalkan identitas atau preferensi keagamaan.

Pasar disebut mulai bergerak ke arah kebutuhan yang lebih konkret, termasuk pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), layanan keuangan bagi pelaku usaha, integrasi dengan ekosistem halal, serta penyediaan produk yang relevan dengan kebutuhan transaksi sehari-hari.

Baca juga: Mengejar Benchmark Global: Perbankan Syariah RI Bidik Pangsa 20 Persen

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau