Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Panic Buying Terjadi Saat Krisis? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 1 April 2026, 08:18 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena panic buying atau pembelian panik kembali mencuat di berbagai negara seiring meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi.

Dalam konteks ini, perilaku konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi riil, tetapi juga oleh faktor psikologis yang kompleks.

Dikutip dari studi yang dipublikasikan di laman EBSCO, Rabu (1/4/2026), secara umum, panic buying merujuk pada perilaku membeli barang dalam jumlah besar secara tidak biasa, biasanya terjadi sebelum atau selama krisis.

Baca juga: Zulhas Minta Warga Tak Panic Buying, Stok Pangan Aman

Antrean SPBU Swasta Vivo di Jalan MT Haryono, Tebet arah Cawang pada Selasa (31/3/2026).KOMPAS.com/HANIFAH SALSABILA Antrean SPBU Swasta Vivo di Jalan MT Haryono, Tebet arah Cawang pada Selasa (31/3/2026).

Perilaku ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran akan kelangkaan barang atau gangguan distribusi.

Respons terhadap ancaman dan ketidakpastian

Dalam kajian psikologi, panic buying kerap dikaitkan dengan persepsi ancaman terhadap ketersediaan barang.

Ketika individu merasa ada risiko kekurangan, mereka cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhan normal sebagai bentuk antisipasi.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai krisis, mulai dari bencana alam hingga pandemi Covid-19.

Baca juga: Ingatkan Warga Jangan Panic Buying BBM, Bahlil: Pakailah Secukupnya

Pada masa tersebut, sejumlah barang seperti makanan pokok hingga tisu toilet sempat mengalami lonjakan permintaan akibat aksi penimbunan oleh konsumen.

Selain itu, panic buying juga dapat dipicu oleh ketidakpastian masa depan. Rasa tidak pasti membuat individu mencari cara untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi, salah satunya melalui pembelian barang dalam jumlah besar.

Dalam perspektif perilaku konsumen, tindakan ini berfungsi sebagai mekanisme coping untuk meredakan kecemasan.

Ilustrasi : warga membeli bensin eceranKompas.com/Ahmad Dzulviqor Ilustrasi : warga membeli bensin eceran

Peran persepsi kelangkaan

Salah satu faktor utama yang mendorong panic buying adalah apa yang dikenal sebagai scarcity heuristic atau persepsi kelangkaan. Ketika suatu barang dianggap langka, nilainya secara psikologis meningkat di mata konsumen.

Baca juga: Panic Buying BBM dan Krisis Energi Bayangi Ekonomi Australia

“Ketika sesuatu dianggap dalam jumlah terbatas, secara psikologis menjadi lebih berharga,” kata profesor psikologi dari Macquarie University Melissa Norberg, dikutip dari The Guardian.

Persepsi ini tidak selalu mencerminkan kondisi nyata. Dalam banyak kasus, ketakutan akan kelangkaan justru menciptakan kelangkaan itu sendiri.

Lonjakan permintaan yang tiba-tiba dapat mengganggu rantai pasok, sehingga stok barang benar-benar menipis.

Dalam literatur ekonomi dan psikologi, kondisi ini disebut sebagai self-fulfilling prophecy, di mana ekspektasi akan kekurangan memicu perilaku yang menyebabkan kekurangan tersebut benar-benar terjadi. 

Baca juga: Stok BBM Aman Jelang Lebaran, Imbauan Tak Panic Buying Menguat

Pengaruh sosial dan perilaku kolektif

Panic buying juga erat kaitannya dengan dinamika sosial. Individu tidak hanya bertindak berdasarkan kebutuhan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika konsumen melihat orang lain membeli dalam jumlah besar, mereka cenderung meniru tindakan tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai herd behavior atau perilaku kawanan.

Karina Rune, peneliti di bidang kesehatan dan ilmu perilaku dari University of the Sunshine Coast, menyebut panic buying sebagai respons coping jangka pendek terhadap stres situasional dan penularan sosial.

Ia menambahkan, norma sosial memiliki peran penting.

Sejumlah warga mengantre untuk mengisi BBM di SPBU Simpang Teritit, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Jumat (6/3/2026).Syah Antoni Sejumlah warga mengantre untuk mengisi BBM di SPBU Simpang Teritit, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Jumat (6/3/2026).

Baca juga: Pertamina Pastikan Stok BBM dan Elpiji Aman Selama Lebaran, Masyarakat Diimbau Tak Panic Buying

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau