BONE, KOMPAS.com - Para petani Dusun Sompobia, Desa Tadangpalie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone harus memikul gabah hasil panen melewati sungai sedalam 1,5 meter karena tidak ada jembatan.
Kondisi seperti ini mereka alami selama puluhan tahun. Agar bisa menyeberang, petani bahkan berenang di sungai selebar 50 meter itu.
"Kami di sini sejak dulu begini baik musim tanam sampai angkut gabah hasil panen dengan cara berenang lewat sungai karena tidak ada jembatan di sini kalau kedalaman sungai sampai leher" kata Naharuddin (33), salah seorang petani saat dikonfirmasi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Rabu, (1/4/2026).
Informasi yang dihimpun Kompas.com area persawahan di wilayah tersebut mencakup 100 hektar yang lokasinya berada di seberang sungai.
Baca juga: Akses ke Wisata Madakaripura Sempat Putus, Kini Ada Jembatan Darurat buat Roda Dua
Bahkan, untuk mengangkut mesin pertanian seperti traktor juga harus melalui sungai tersebut.
Agar bisa menyeberang, warga setempat terkadang menggunakan jembatan bambu yang dibangun secara gotong royong.
Namun, jembatan tersebut beberapa kali mengalami kerusakan, sehingga warga cenderung memilih berenang.
"Ada jembatan bambu yang kami bangun sendiri tapi sering roboh, sudah beberapa orang yang jadi korban pas lewat jembatan roboh," kata Naharuddin.
Hermansyah, Kepala Dusun Sompobia mengatakan, sebenarnya di wilayah tersebut terdapat jembatan yang kerap dilalui oleh warga namun berjarak 7 kilometer dari area persawahan.
"Sebenarnya ada jembatan tapi cukup jauh sekitar tujuh kilometer jaraknya jadi warga lebih memilih lewat sungai," katanya saat dikonfirmasi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Rabu, (1/4/2/2026).
Baca juga: Jembatan Sungai Widodaren Pati Nyaris Putus Akibat Longsor, Akses Warga Terancam Lumpuh
Untuk mengangkut hasil panen, sebenarnya warga juga memiliki alternatif lain untuk mengangkut hasil panen menggunakan jasa ojek dengan biaya Rp 10 ribu per karung.
"Sebenarnya bisa pakai ojek gabah tapi harganya mahal satu karung sepuluh ribu dari sawah ke rumah jadi kalau puluhan karung kan lumayan jadinya warga lebih memilih mengangkut sendiri gabahnya" kata Hermansyah.
Baca juga: Jembatan Gunung Sari di Berau Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Khawatir Ambruk
Hermansyah mengaku telah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan untuk para petani kepada pemerintah namun hingga saat ini belum ada realisasi.
"Tiap tahun kami kalau Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) agar dibangun jembatan tapi sampai saat ini belum terpenuhi" kata Hermansyah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang