Apakah Headphone Bluetooth Berbahaya bagi Otak? Ini Fakta Ilmiahnya

Kompas.com, Diperbarui 19/03/2026, 16:53 WIB
Soffya Ranti

Penulis

Ringkasan Berita: 

  • Penggunaan headphone Bluetooth semakin umum, tetapi diikuti kekhawatiran soal keamanan paparan gelombang nirkabel terhadap otak. Isu ini kerap dikaitkan dengan radiasi dan risiko kesehatan jangka panjang. Karena itu, perlu melihatnya berdasarkan penjelasan ilmiah, bukan sekadar klaim di media sosial.
  • Bluetooth bekerja menggunakan radiasi non-ionisasi, yaitu gelombang radio berenergi rendah yang tidak mampu merusak DNA seperti sinar-X. Sejumlah kajian menunjukkan paparan dari headphone Bluetooth lebih rendah dibandingkan ponsel dan berada dalam batas aman. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah kuat yang mengaitkan penggunaan Bluetooth dengan kanker otak.
  • Dalam kajian kesehatan, perhatian yang lebih relevan justru tertuju pada risiko gangguan pendengaran akibat volume tinggi dan durasi pemakaian yang terlalu lama. Penggunaan headphone disarankan dilakukan secara moderat dengan volume wajar dan jeda berkala. Secara umum, headphone Bluetooth dinilai aman bagi otak jika digunakan secara bijak dan sesuai rekomendasi kesehatan.

KOMPAS.com - Penggunaan headphone Bluetooth semakin umum dalam keseharian, mulai dari bekerja, belajar, hingga menemani aktivitas santai. Namun di balik kepraktisannya, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat.

Apakah paparan gelombang dari perangkat nirkabel ini aman bagi otak jika digunakan dalam jangka panjang? Pertanyaan tersebut kerap beredar di media sosial dan forum daring, sering kali dibarengi klaim soal radiasi dan dampak kesehatan yang belum tentu benar.

Untuk menjawabnya, penting melihat persoalan ini dari sudut pandang ilmiah, bukan sekadar asumsi. Berbagai penelitian telah mengkaji tingkat radiasi Bluetooth, cara kerjanya, serta perbandingannya dengan perangkat elektronik lain yang digunakan sehari-hari.

Dengan memahami fakta dan data yang ada, kita bisa menilai secara lebih jernih apakah headphone Bluetooth benar-benar berisiko bagi otak, atau justru kekhawatiran tersebut lebih dekat ke mitos daripada kenyataan. Selengkapnya KompasTekno menguraikan penjelasannya.

Baca juga: 10 Fitur Headphone JBL Tour One M3 Smart Tx, Cocok untuk Audiophile

Apakah headphone Bluetooth berbahaya bagi otak?

Dilansir dari Health.com, kekhawatiran soal bahaya headphone Bluetooth terhadap otak umumnya berkaitan dengan paparan radiasi.

Perlu dipahami, perangkat Bluetooth memang memancarkan radiasi, tetapi jenisnya adalah radiasi non-ionisasi. Artinya, radiasi ini tidak memiliki energi cukup untuk merusak DNA atau memicu kanker seperti radiasi ionisasi pada sinar-X atau limbah radioaktif.

National Cancer Institute juga menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan pasti antara penggunaan perangkat nirkabel dan kanker atau penyakit serius lainnya, bahkan Bluetooth dinilai sebagai opsi yang lebih aman dibanding menempelkan ponsel langsung ke telinga.

Seberapa besar paparan radiasi dari headphone Bluetooth?

Paparan radiasi dari headphone Bluetooth lebih rendah dibandingkan ponsel. Menurut Ken Foster, profesor bioengineering dari University of Pennsylvania, emisi radiasi Bluetooth tergolong sangat kecil, meskipun digunakan dalam waktu lama.

Pemerintah Amerika Serikat juga telah menetapkan standar keamanan radiasi untuk perangkat elektronik, dan emisi Bluetooth berada jauh di bawah ambang batas yang dinilai aman bagi tubuh manusia.

Apakah ada hubungannya dengan risiko kanker otak?

Hingga saat ini, riset ilmiah belum menemukan bukti kuat bahwa radiasi frekuensi radio (RF) dari Bluetooth berdampak buruk pada otak atau meningkatkan risiko kanker. Bluetooth termasuk radiasi non-ionisasi yang tidak bersifat karsinogenik.

Meski begitu, penelitian jangka panjang tetap diperlukan untuk memantau potensi efek kesehatan dari penggunaan perangkat nirkabel secara masif.

Dalam berbagai kajian kesehatan, perhatian utama terkait penggunaan headphone, baik kabel maupun Bluetooth lebih sering diarahkan pada kesehatan pendengaran.

Paparan suara dengan volume tinggi dalam durasi lama berpotensi memicu gangguan pendengaran yang bersifat permanen.

Oleh karena itu, penggunaan headphone disarankan dilakukan secara moderat, dengan membatasi waktu mendengarkan, menjaga volume pada tingkat wajar, serta memberi jeda secara berkala agar telinga tidak terus-menerus terpapar suara.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau