KOMPAS.com – Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) resmi melarang impor dan izin edar untuk semua produk router internet model baru yang diproduksi di luar negeri mulai Senin (23/3/2026).
Langkah ini merupakan tindak lanjut langsung dari "Ketetapan Keamanan Nasional" yang diterbitkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump pada Jumat pekan lalu.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk melindungi infrastruktur telekomunikasi AS dari ancaman serangan siber dan spionase.
Aturan pemblokiran ini mengejutkan banyak pihak karena skalanya yang sangat luas. FCC secara resmi memasukkan kategori "semua router yang diproduksi di negara asing" ke dalam daftar hitam (covered list).
Meski aturan FCC tidak secara khusus menyebutkan satu negara tertentu, para analis industri sepakat bahwa target utamanya adalah membendung perangkat keras asal China.
Saat ini, produk perusahaan China diperkirakan menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar router rumahan di Amerika Serikat.
Pabrikan besar seperti TP-Link, yang didirikan di China dan kini bermarkas di California, dilaporkan tengah diselidiki oleh pemerintahan AS terkait potensi risiko keamanan dari perangkatnya.
Namun, efek dari aturan pemblokiran ini justru ikut memukul raksasa teknologi asal AS sendiri. Merek-merek router populer buatan AS, seperti Netgear, Google Nest, Amazon Eero, Cisco, dan Linksys, terancam tidak bisa merilis model baru di negaranya sendiri.
Pasalnya, hampir sebagian besar perangkat keras dari merek-merek tersebut dirakit dan diproduksi di pabrik luar negeri, seperti di Taiwan, Vietnam, Thailand, dan China.
Baca juga: Efek Domino Krisis Memori Berlanjut, Router dan STB Terancam Naik
Pihak FCC berargumen bahwa router buatan asing telah menciptakan celah kerentanan fatal.
Perangkat ini sejatinya bertindak sebagai gerbang utama yang menghubungkan komputer, ponsel, dan perangkat pintar warga sipil ke jaringan internet, sehingga keberadaannya sangat krusial dan rawan disusupi.
Menurut laporan komisi tersebut, peretas semakin sering memanfaatkan celah pada router rumahan. FCC secara spesifik menuding bahwa router asing telah memfasilitasi kampanye peretasan skala besar seperti operasi Volt, Flax, dan Salt Typhoon.
Serangan-serangan tersebut diketahui secara agresif menargetkan sektor infrastruktur kritis Amerika, mulai dari sistem komunikasi, jaringan energi, transportasi, hingga fasilitas air.
Aturan ketat ini dibuat demi memutus kelonggaran rantai pasok dan memastikan tidak ada "pintu belakang" (backdoor) yang tertanam secara bawaan pada jaringan rumah warga AS.
Ilustrasi router wifi. Lantas, bagaimana nasib router WiFi buatan luar negeri yang saat ini sudah telanjur digunakan oleh konsumen di rumah?