KOMPAS.com - China terkenal sebagai produsen smartphone atau HP harga terjangkau. Di pasar global, HP murah China mendominasi lebih dari satu dekade. Akan tetapi, kejayaan HP murah China kini tengah berakhir.
Kondisi itu tak lain disebabkan oleh Artificial Intelligence (AI) yang bikin memori langka sehingga harga komponen meningkat. Jika kondisi ini dibiarkan, China rasanya mustahil bikin HP dengan harga semurah dulu lagi.
Baca juga: Siap-siap Harga Hard Disk, Router, STB Naik Imbas Krisis Memori Global
Perubahan tren HP China murah ini sudah terlihat di ajang Mobile World Congress (MWC) di Barcelona awal Maret lalu. Sejumlah produsen smartphone memamerkan perangkat terbaru mereka, tetapi beberapa di antaranya belum dapat memastikan harga final saat peluncuran.
Padahal biasanya harga sudah ditentukan jauh sebelum perangkat diperkenalkan ke publik.
Salah satu contohnya adalah Xiaomi yang mengumumkan ponsel seri terbarunya dengan harga 999 euro (sekitar Rp 19,5 juta) di panggung acara.
Namun, analis industri memperkirakan harga ritel sebenarnya bisa berubah ketika ponsel tersebut benar-benar dijual di pasar. Situasi ini terjadi karena biaya komponen utama ponsel, terutama chip memori, sedang berubah sangat cepat.
Salah satu penyebab utama perubahan tersebut adalah meningkatnya permintaan chip memori untuk pusat data AI.
Server AI membutuhkan jenis memori berkecepatan tinggi yang disebut high-bandwidth memory (HBM). Memori ini biasanya digunakan bersama GPU AI seperti yang diproduksi oleh Nvidia.
Karena permintaan AI melonjak tajam, produsen memori dunia seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology mulai mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka dari memori konvensional ke memori untuk server AI.
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone dan laptop menjadi lebih terbatas.
Lembaga riset TrendForce memperkirakan harga DRAM (memori utama pada ponsel dan komputer) naik hingga sekitar 90–95 persen dalam satu kuartal. Sementara itu harga NAND flash (memori penyimpanan internal) meningkat sekitar 55–60 persen dalam periode yang sama.
Beberapa laporan industri bahkan menyebut harga DRAM dapat berubah dalam hitungan jam, terutama bagi pembeli kecil yang tidak memiliki kontrak pasokan jangka panjang. Lonjakan permintaan AI membuat pasar memori global seolah terbagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah perusahaan besar dengan daya beli tinggi, seperti penyedia layanan cloud dan produsen perangkat premium. Perusahaan seperti Apple atau Samsung memiliki kontrak pasokan jangka panjang sehingga masih bisa mendapatkan prioritas distribusi memori.
Kelompok kedua adalah ratusan ribu perusahaan elektronik kecil dan menengah yang harus bersaing untuk mendapatkan sisa pasokan.
Kondisi ini membuat produsen smartphone dengan margin tipis semakin tertekan karena biaya komponen yang terus meningkat.
Baca juga: Saat Harga Memori Naik, Vendor China Ini Malah Jual RAM Murah
Selama lebih dari satu dekade, produsen smartphone China membangun bisnis mereka dengan strategi “spesifikasi tinggi dengan harga murah”.