KOMPAS.com - Era keemasan smartphone murah buatan China dengan iming-iming "spesifikasi tinggi, harga murah" kini sedang berada di ujung tanduk.
Selama lebih dari satu dekade mendominasi pasar global, model bisnis yang mengandalkan margin tipis ini mulai goyah dihantam tekanan besar.
Faktor pemicu utamanya adalah lonjakan harga chip memori imbas booming kecerdasan buatan (AI) di seluruh dunia. Kondisi ini kemudian diperparah oleh ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok semikonduktor global.
Jika tren ini terus berlanjut, analis memprediksi industri smartphone akan memasuki fase baru yang suram. Ponsel murah tak lagi ramah kantong, dan pelan-pelan akan semakin langka ditemukan di pasaran.
Tanda-tanda krisis ini sebenarnya sudah terlihat saat ajang Mobile World Congress (MWC) digelar di Barcelona awal Maret lalu.
Sejumlah vendor memamerkan perangkat terbaru, tetapi mereka tampak kebingungan mematok harga final. Padahal dalam kondisi normal, harga ritel sudah dikunci jauh hari sebelum produk diumumkan.
Xiaomi, misalnya, nekat mengumumkan ponsel seri terbarunya seharga 999 euro (sekitar Rp 19,5 juta) di atas panggung.
Namun, para analis meyakini harga tersebut sangat mungkin direvisi saat produk benar-benar mendarat di toko. Situasi ini terjadi murni karena biaya komponen utama, yakni chip memori, sedang bergejolak sangat liar.
Baca juga: Harga PC dan Smartphone Makin Mahal, Tertinggi dalam 26 Tahun
Akar masalah dari krisis ini bermula dari meledaknya permintaan chip memori untuk menunjang pusat data AI.
Server AI membutuhkan jenis memori berkecepatan tinggi yang disebut high-bandwidth memory (HBM), yang umumnya dipasangkan dengan unit pengolah grafis (GPU) andalan seperti buatan Nvidia.
Merespons tingginya permintaan ini, produsen memori raksasa, seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology langsung memutar haluan. M
ereka mengalihkan sebagian besar kapasitas produksinya dari memori konvensional (untuk ponsel dan PC) menjadi memori khusus server AI yang lebih menguntungkan.
Imbasnya fatal, pasokan memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone dan laptop menjadi sangat langka.
Lembaga riset TrendForce mencatat, harga DRAM (memori utama/RAM) meroket hingga 90-95 persen hanya dalam satu kuartal. Sementara harga NAND flash (memori penyimpanan internal) melonjak 55-60 persen di periode yang sama.
Baca juga: Ikuti Oppo dan OnePlus, Harga HP Vivo dan iQoo Juga Naik
Situasi makin mencekam bagi pabrikan kecil, karena laporan industri menyebut harga DRAM kini bisa berubah dalam hitungan jam.