KOMPAS.com – Perusahaan kecerdasan buatan (AI) pembuat chatbot ChatGPT, OpenAI mengumumkan telah merampungkan putaran pendanaan terbaru, dengan mengumpulkan dana senilai 122 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.000 triliun, kurs 1 dollar AS = Rp 16.950).
Suntikan dana segar ini membuat valuasi perusahaan melonjak ke sekitar 852 miliar dollar AS atau setara lebih dari Rp 14.000 triliun. Pada Februari lalu, valuasi OpenAI berada di angka 730 miliar dollar AS atau sekitar Rp 12.300 triliun.
Pendanaan ini disebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah industri teknologi, sekaligus menandai langkah OpenAI menuju potensi penawaran saham perdana (IPO), meski belum ada jadwal resmi terkait rencana tersebut.
Nah, putaran pendanaan ini dipimpin oleh sejumlah mitra strategis global, termasuk Amazon yang dikabarkan berkomitmen hingga 50 miliar dollar AS, serta Nvidia dan SoftBank yang masing-masing berkontribusi sekitar 30 miliar dollar AS.
Baca juga: Elon Musk Diam-diam Pernah Hasut Zuckerberg untuk Beli OpenAI
Beberapa pihak lainnya yang berkontribusi dalam pendanaan ini meliputi Altimeter, Appaloosa Management, ARK Invest, Sequoia Capital, Thrive Capital, hingga sejumlah investor individual melalui berbagai kanal perbankan.
Dalam keterangan resminya, OpenAI menyebut sebagian besar dana ini akan digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur pusat data (data center) dan kapasitas komputasi dalam skala besar.
CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya menyebut kebutuhan investasi infrastruktur AI bisa menembus lebih dari 1 triliun dollar AS (Rp 16.949 triliun).
Namun, target tersebut kini disesuaikan menjadi sekitar 600 miliar dollar AS (sekitar Rp 10.169 triliun) hingga 2030 mendatang. Dana segar di atas bisa membantu mencapai target ini.
Selain itu, dana ini juga akan dialokasikan untuk melatih model AI generasi baru dengan kemampuan lebih canggih, sekaligus mengembangkan produk terpadu berupa “AI superapp” yang menggabungkan berbagai layanan dalam satu platform.
OpenAI juga akan memanfaatkan pendanaan ini untuk memperluas bisnis enterprise serta meningkatkan efisiensi layanan seiring dengan peningkatan skala penggunaan AI.
Baca juga: OpenAI Tutup Sora, AI Pembuat Video yang Sempat Viral
Segmen enterprise sendiri kini disebut telah menyumbang lebih dari 40 persen pendapatan dan diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.
Terkait pendapatan, OpenAI mengklaim pihaknya kini mencatat pendapatan sekitar 2 miliar dollar AS per bulan.
Angka ini melonjak tajam dibanding 2024 yang masih berada di kisaran 1 miliar dollar AS per tiga bulan alias per kuartal.
Perusahaan juga mengeklaim pertumbuhan pendapatannya empat kali lebih cepat dibanding raksasa teknologi seperti Alphabet dan Meta pada fase awal pertumbuhan mereka.
Menyoal pertumbuhan, saat ini layanan OpenAI disebut menunjukkan pertumbuhan pesat dari sisi pengguna.