Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ahmad Edi Prianto
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ahmad Edi Prianto adalah seorang yang berprofesi sebagai Wiraswasta. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Wajah-wajah Yogyakarta: dari Hiruk Pikuk Malioboro hingga Sunyi Masjid Jogokariyan

Kompas.com, 29 Maret 2026, 10:39 WIB
Kompasianer Ahmad Edi Prianto,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Langkah saya melambat saat melewati deretan delman, aroma khas kotoran kuda yang bercampur dengan asap kendaraan bermotor menciptakan bau aneh yang justru dapat dirindukan.

Saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat orang-orang terus kembali ke sini? Apakah karena kerinduannya pada barang-barang kerajinan kulit, atau karena atmosfer manusiawi yang seolah memanusiakan siapa saja yang menapakkan kaki di atasnya?.

Dan di balik kegemerlapan itu, saya juga menangkap wajah-wajah lelah yang tersembunyi di balik bayang-bayang pilar toko. Ada perjuangan yang tak terlihat dalam setiap senyum pedagang asongan, kusir delman, dan penjaga toko.

Saya menyadari, bahwa Malioboro adalah ruang di mana harapan dan realitas beradu setiap detiknya. Langkah saya terus terserap, membawa saya pada kesadaran bahwa keindahan kota ini tidak terletak pada benda-benda yang dipajang di etalase, melainkan pada ketangguhan manusia-manusia yang menghidupinya.

Serapan itu membawa saya terus melangkah, meninggalkan lampu-lampu neon yang mulai menyala, menuju sisi lain yang menjanjikan ketenangan yang berbeda.

Mengunjungi Masjid Jogokariyan yang Terkenal dengan Saldo Nol Rupiah-nya

Meninggalkan keriuhan pusat kota, saya mengarahkan perjalanan saya menuju ke arah selatan. Memasuki sebuah kampung yang atmosfernya berubah menjadi lebih tenang namun penuh daya hidup, yaitu kampung Jogokariyan.

Memasuki kawasan ini terasa seperti memasuki ruang tamu yang luas dan terbuka, serta tidak ada kesan eksklusif. Di tengahnya berdiri sebuah bangunan masjid yang namanya telah lama berdenging di telinga saya, yang menjadi salah satu jantung aktivitas warga, yaitu Masjid Jogokariyan.

Saya mengarahkan badan untuk melangkah masuk ke pelataran masjid, bukan sebagai turis yang ingin mengaudit, melainkan sebagai pendatang yang merasa haus akan logika yang tidak lazim.

Konsep "Saldo Nol Rupiah" adalah hal yang paling mengusik logika ekonomi saya. Di dunia luar, kita diajarkan untuk menimbun, membangun benteng finansial setinggi mungkin agar merasa aman. Namun di dalam jargon masjid itu yang terkenal, saya justru menemukan sebuah keberanian untuk menghabiskan.

Masjid tersebut, seakan-akan tidak membiarkan uang umat mengendap dan berdebu di dalam buku bank. Setiap rupiah yang masuk, segera dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan selaras dengan motto Masjid Jogokariyan, "Dari Masjid Membangun Umat".

Jujur, ini adalah bentuk filantropi yang paling radikal yang pernah saya temui. Dimana masjid bukan lagi sekadar tempat ritual ibadah formal, melainkan jantung ekonomi dan sosial bagi lingkungannya.

Baca juga: Sepiring Rawon Tessy dan Cerita yang Tak Pernah Usang Sejak 1942

Saya merenungi betapa seringnya kita sebagai individu merasa cemas akan masa depan, lalu menimbun harta sebanyak mungkin sebagai benteng keamanan. Namun di Jogokariyan, keamanan justru lahir dari kerelaan untuk memberi.

Logika "saldo nol" ini mengajarkan saya bahwa keberkahan tidak datang dari jumlah yang kita simpan, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang berhasil kita alirkan. 

Pengelolaan "nol rupiah" itu ternyata bukan sekadar strategi akuntansi, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa rezeki akan selalu datang selama kita tidak menggenggamnya terlalu erat.

Karangkajen dan Makam Sederhana Sosok Sang Pencerah

Perjalanan saya mencapai puncaknya, saat saya memasuki kawasan Karangkajen. Saya berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit, di mana dinding-dinding rumah penduduk seolah berbisik tentang sejarah panjang kampung ini.

Halaman:


Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau