
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Langkah saya melambat saat melewati deretan delman, aroma khas kotoran kuda yang bercampur dengan asap kendaraan bermotor menciptakan bau aneh yang justru dapat dirindukan.
Saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat orang-orang terus kembali ke sini? Apakah karena kerinduannya pada barang-barang kerajinan kulit, atau karena atmosfer manusiawi yang seolah memanusiakan siapa saja yang menapakkan kaki di atasnya?.
Dan di balik kegemerlapan itu, saya juga menangkap wajah-wajah lelah yang tersembunyi di balik bayang-bayang pilar toko. Ada perjuangan yang tak terlihat dalam setiap senyum pedagang asongan, kusir delman, dan penjaga toko.
Saya menyadari, bahwa Malioboro adalah ruang di mana harapan dan realitas beradu setiap detiknya. Langkah saya terus terserap, membawa saya pada kesadaran bahwa keindahan kota ini tidak terletak pada benda-benda yang dipajang di etalase, melainkan pada ketangguhan manusia-manusia yang menghidupinya.
Serapan itu membawa saya terus melangkah, meninggalkan lampu-lampu neon yang mulai menyala, menuju sisi lain yang menjanjikan ketenangan yang berbeda.
Meninggalkan keriuhan pusat kota, saya mengarahkan perjalanan saya menuju ke arah selatan. Memasuki sebuah kampung yang atmosfernya berubah menjadi lebih tenang namun penuh daya hidup, yaitu kampung Jogokariyan.
Memasuki kawasan ini terasa seperti memasuki ruang tamu yang luas dan terbuka, serta tidak ada kesan eksklusif. Di tengahnya berdiri sebuah bangunan masjid yang namanya telah lama berdenging di telinga saya, yang menjadi salah satu jantung aktivitas warga, yaitu Masjid Jogokariyan.
Saya mengarahkan badan untuk melangkah masuk ke pelataran masjid, bukan sebagai turis yang ingin mengaudit, melainkan sebagai pendatang yang merasa haus akan logika yang tidak lazim.
Konsep "Saldo Nol Rupiah" adalah hal yang paling mengusik logika ekonomi saya. Di dunia luar, kita diajarkan untuk menimbun, membangun benteng finansial setinggi mungkin agar merasa aman. Namun di dalam jargon masjid itu yang terkenal, saya justru menemukan sebuah keberanian untuk menghabiskan.
Masjid tersebut, seakan-akan tidak membiarkan uang umat mengendap dan berdebu di dalam buku bank. Setiap rupiah yang masuk, segera dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan selaras dengan motto Masjid Jogokariyan, "Dari Masjid Membangun Umat".
Jujur, ini adalah bentuk filantropi yang paling radikal yang pernah saya temui. Dimana masjid bukan lagi sekadar tempat ritual ibadah formal, melainkan jantung ekonomi dan sosial bagi lingkungannya.
Baca juga: Sepiring Rawon Tessy dan Cerita yang Tak Pernah Usang Sejak 1942
Saya merenungi betapa seringnya kita sebagai individu merasa cemas akan masa depan, lalu menimbun harta sebanyak mungkin sebagai benteng keamanan. Namun di Jogokariyan, keamanan justru lahir dari kerelaan untuk memberi.
Logika "saldo nol" ini mengajarkan saya bahwa keberkahan tidak datang dari jumlah yang kita simpan, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang berhasil kita alirkan.
Pengelolaan "nol rupiah" itu ternyata bukan sekadar strategi akuntansi, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa rezeki akan selalu datang selama kita tidak menggenggamnya terlalu erat.
Perjalanan saya mencapai puncaknya, saat saya memasuki kawasan Karangkajen. Saya berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit, di mana dinding-dinding rumah penduduk seolah berbisik tentang sejarah panjang kampung ini.