KOMPAS.com - Lonjakan prestasi Perancis di jagat bulu tangkis menghadirkan teror buat negara lain, termasuk Indonesia yang tergabung segrup di Piala Thomas 2026.
Piala Thomas telah melaksanakan drawing beberapa waktu lalu dan Indonesia dipastikan masuk Grup D bersama Thailand, Perancis, dan Aljazair.
Turnamen beregu putra sarat gengsi dan tradisi yang pelaksanaannya berbarengan dengan Piala Uber (beregu putri) ini bakal berlangsung di Horsens, Denmark.
Indonesia menyandang status unggulan kedua di Piala Thomas, namun perkembangan terkini justru memunculkan kekhawatiran di benak pencinta bulu tangkis Tanah Air.
Baca juga: Update Ranking Dunia BWF, Rival Seangkatan Alwi Farhan Merangkak Naik
Atlet-atlet andalan Indonesia mengalami penurunan prestasi, terlebih di rangkaian Tur Eropa yang di dalamnya ada All England.
Target membawa pulang minimal satu gelar meleset. All England hanya sampai semifinal di ganda putra dan Swiss Open sebatas finalis tunggal putra plus tunggal putri.
Berbanding terbalik dengan Perancis yang rutin menempatkan wakilnya di podium BWF World Tour, bahkan menciptakan duel senegara di final.
Momentum Kejuaraan Beregu Eropa 2026 menghadirkan optimisme yang meluap-luap. Untuk pertama kalinya tim putra Perancis merengkuh juara dan mematahkan dominasi Denmark.
Baca juga: Bekal Berharga Alwi Farhan dari Tur Eropa, 2 Kali Tekuk Pemain Top 10
"Kami pernah mencapai perempat final pada 2018, tetapi untuk pertama kalinya kami berhasil menjadi juara Eropa," kata tunggal putra Toma Junior Popov kepada BWF TV.
"Hasil itu memberi kami keyakinan bahwa kami mampu bersaing dengan Denmark, sekaligus menumbuhkan harapan yang lebih tinggi," jelasnya.
Mengetahui hasil drawing menempatkan Perancis di Grup D bareng Thailand dan Indonesia, Toma Junior Popov mengaku tak gentar.
"Tidak ada undian yang bagus, tidak ada undian yang buruk. Setiap pertandingan harus dihadapi secara profesional dengan mentalitas yang kuat."
Baca juga: Finalis Swiss Open 2026, Alwi Farhan dan Putri KW Kantongi Rp 161 Juta
"Saya menilai kami memiliki tim yang cukup solid untuk bersaing dengan para pemain terbaik," ujar kakak kandung Christo Popov tersebut.
Sementara itu, tunggal putra Perancis lain, Alex Lanier, menilai tekanan di ajang beregu berbeda dibandingkan turnamen individu.
Setiap pemain tidak hanya bertanding untuk diri sendiri, melainkan juga membawa nama tim. Sebuah tantangan tersendiri.