KOMPAS.com - Dalam rangka mendorong literasi ekologi dan kepedulian terhadap satwa pada anak usai sekolah, Jagat Satwa Nusantara menggelar Cerdas Cermat yang menyasar siswa SD dan SMP.
Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara merupakan kompetisi edukatif yang menggabungkan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati, ilmu pengetahuan alam, serta kemampuan berpikir kritis dan kerja sama tim.
Di era krisis ekologi yang terjadi dewasa ini, program ini hadir untuk mengatasi kurangnya pemahaman siswa tentang hubungan antara makhluk hidup dan alam sekitar.
Program ini telah berjalan sejak November hingga Desember 2025 di 28 sekolah yang berpartisipasi pada babak penyisihan. Dari proses seleksi tersebut, 21 sekolah berhasil melaju ke babak Grand Final.
Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara Muhammad Fardhan Khan menyebut, program ini dimaksudkan untuk menanamkan kesadaran bahwa satwa dan lingkungan bukan sekadar materi pelajaran, tetapi bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang harus dijaga bersama.
“Konservasi tidak hanya muncul dari laboratorium, tapi juga muncul di ruang-ruang kelas dan rasa penasaran,” ungkapnya dalam Press Conference Grand Final Cerdas Cermat yang dihelat di Jagat Satwa Nusantara, Rabu (28/1/2026).
Di samping meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi wadah interaksi antara sekolah, orang tua, dan lembaga konservasi, sekaligus memperkuat peran pendidikan dalam membentuk generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
28 Sekolah yang berpartisipasi menggelar perlombaan secara internal di sekolah masing-masing. Pihak penyelenggara memberikan panduan, soal-soal, dan stater kit untuk menunjang proses seleksi.
Melalui proses seleksi tersebut, tersaring 21 sekolah yang terdiri dari 18 SD dan 3 SMP untuk melaju ke babak Grand Final.
Fardhan mengatakan, materi yang diujikan pada cerdas cermat tersebut disesuaikan dengan kurikulum pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Ia mengaku, pihaknya memiliki tim edukasi pribadi yang berperan sebagai pembuat soal.
“Kami punya tim Edukasi di dalam, kita nyebutnya tim ekor (Edukasi Konservasi). Tim Ekor ini ketika membuat soal-soal terlebih dahulu mengecek kurikulum apa yang sedang dijalankan oleh pemerintah,” jelas dia.
Selain itu, terdapat beberapa butir soal yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai Jagat Satwa Nusantara dan Taman Mini Indonesia Indah sebagai pihak penyelenggara.
Baca juga: Kemendikdasmen: Tak Ada Target Nilai TKA SD-SMP, Kalau Merah Maka Itulah Faktanya
Dalam kesempatan tersebut, Fardhan mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, di antaranya TMII, Kompas Gramedia, BRIN, serta Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Ia berharap, program cerdas cermat ini dapat berkelanjutan melalui dukungan lintas sektor.
“Kami internal punya visi, kalau sekarang Jabodetabek, besok penginnya skala Nasional. Hal tersebut tidak dapat terlaksana tanpa dukungan stakeholder yang ada di sini,” ungkapnya.