Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemendikdasmen Beri Imbauan Ini untuk Bantu Hemat Energi di Sekolah

Kompas.com, 31 Maret 2026, 19:32 WIB
Sania Mashabi,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan imbauan penghematan energi di sekolah.

Hal ini dilakukan terkait arahan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan penghematan energi seiring meningkatnya eskalasi perang antara di Timur Tengah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjelaskan, penghematan energi di sekolah bisa dilakukan melalui penghematan listrik, penggunaan air, dan berupaya membangun kehidupan yang lebih sehat.

Baca juga: 617.225 Pendaftar SNBP 2026 Tidak Lolos Hari Ini

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk hemat energi

"Bagaimana penggunaan listrik, penggunaan air, dan juga membangun budaya yang lebih sehat," kata Mu'ti di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (30/3/2026).

Pembangunan gaya hidup sehat yang dimaksud Mu'ti adalah dengan kembali membiasakan ke sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda.

"Jadi misalnya kita himbau kalau yang rumahnya dekat dari sekolah kalau memang kira-kira aman dan nyaman saya kira tidak ada salahnya jalan kaki misalnya kan, atau kembali kepada kebiasaan bersepeda," ujarnya.

Menurut Mu'ti, kebiasaan naik sepeda sebenarnya sudah mulai menjamur sejak masa Covid-19 dan kebiasaan tersebut juga sangat bagus untuk kesehatan.

Oleh karena itu, Mu'ti menilai, tidak ada salahnya kebiasaan itu kembali dihidupkan kembali.

"Selama masa Covid itu kan anak-anak terbiasa bersepeda kenapa kebiasaan itu kita juga lanjutkan lagi? Itu kan sehat dan juga bisa himat energi dan bersih lingkungan," ungkapnya.

Baca juga: Siswa Masuk Sekolah Usai Liburan, Mendikdasmen: Tetap Tatap Muka

ilustrasi siswa Sekolah Dasar (SD). Jadwal masuk sekolah dan libur lebaran 2026.Pexels/ujangubed hidayat ilustrasi siswa Sekolah Dasar (SD). Jadwal masuk sekolah dan libur lebaran 2026.

Pentingnya penggunaan transportasi umum

Selain itu, Mu'ti juga menekankan pentingnya penggunaan transportasi umum yang aman dan nyaman bagi warga sekolah dan masyarakat.

Menurut Mu'ti, transportasi yang aman dan nyaman akan menarik perhatian warga sekolah dan masyarakat umum.

"Menurut saya ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah di mana pun untuk memperbaiki sarana transportasi umum," ungkapnya.

"Sehingga anak-anak kita ini bisa berangkat ke sekolah dengan menggunakan transportasi umum itu kan lebih himat energi, juga bisa mengurangi polusi," pungkas Mu'ti.

Sebelumnya, Menko PMK Pratikno, pada Selasa juga menuturkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.

Dengan demikian, dari koordinasi lintas kementerian diputuskan bahwa pembelajaran tatap muka harus tetap berjalan untuk memastikan kualitas pendidikan tidak menurun.

Baca juga: TKA SD SMP 2026: Jadwal Lengkap dan Jam Per Sesi

"Bahwa di sektor pendidikan, proses pembelajaran harus semakin optimal dan jangan sampai timbul learning loss. Oleh karena itu, diutamakan penyelenggaraan proses pembelajaran tetap berjalan secara luring bagi siswa,” kata Pratikno dari keterangan resminya, sebagaimana dilansir Kompas.com.

Pratikno membenarkan bahwa sempat juga ada opsi untuk melakukan pembelajaran hybrid, yakni gabungan luring dan daring. Namun, kembali menjaga kualitas pendidikan menjadi yang terpenting.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau