Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mampukah Pakistan Damaikan Perang AS Vs Iran?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 17:41 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

Penulis: Haroon Janjua/DW Indonesia

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Pakistan meningkatkan upaya diplomatiknya untuk menjadi mediator utama konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Upaya tersebut sejalan dengan hubungan strategis Pakistan dengan Iran dan AS yang menjadi landasannya.

Meskipun belum ada tanda-tanda konflik akan mereda, pemerintah Pakistan di Islamabad mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Turkiye, Mesir, dan Arab Saudi pada hari Minggu (29/3/2026) untuk menyiapkan kemungkinan pembicaraan antara Washington dan Teheran.

Setelah pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan bahwa Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang konstruktif antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang.

Baca juga: Pakistan Gerak Cepat Damaikan Perang Iran, Jamu Saudi-Turkiye-Mesir

"Pakistan sangat senang karena baik Iran maupun AS telah menyatakan kepercayaan mereka kepada Pakistan untuk memfasilitasi pembicaraan," kata Dar, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Hingga kini belum jelas apakah negosiasi akan dilakukan secara langsung atau tidak. Baik AS serta Iran juga belum mengonfirmasi kapan negosiasi akan dilaksanakan.

Kedua negara justru mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan mengenai apakah negosiasi akan benar-benar berlangsung.

Pada Minggu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menepis bahwa rencana negosiasi yang akan berlangsung di Pakistan sebagai "kedokā€ untuk invasi.

Sementara 2.500 marinir AS telah mendarat di Timur Tengah, dan Qalibaf menyatakan mereka akan dibakar habis.

Baca juga: Turuti Pakistan, Israel Hapus Menlu dan Ketua Parlemen Iran dari Daftar Target

Iran sebelumnya menolak rencana perdamaian AS yang berisi 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan, dengan menyebutnya berlebihan, tidak masuk akal, dan tidak realistis.

Rencana tersebut meminta Iran mengakhiri pengayaan nuklir, membongkar fasilitas nuklir, dan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pada Senin (30/3/2026), Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa ada pembicaraan yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang.

"Kami belum melakukan negosiasi langsung apa pun," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei dalam konferensi pers.

Trump berulang kali memberi sinyal bahwa beberapa bentuk negosiasi antara AS dan Iran sedang berlangsung.

Namun, dalam salah satu unggahan terbarunya di Truth Social, Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Iran tidak segera membuat kesepakatan dan membuka Selat Hormuz.

Baca juga: Rahasia Diplomasi Pakistan: Mengapa Islamabad Jadi Juru Runding AS-Iran?

Halaman:

Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Mampukah Pakistan Damaikan Perang AS Vs Iran?
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat