Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Berapa Banyak Detergen yang Harus Digunakan saat Mencuci Pakaian?

KOMPAS.com - Mencuci pakaian terlihat seperti pekerjaan yang sederhana, tapi ternyata ada hal-hal penting yang sering diabaikan, salah satunya adalah takaran detergen. 

Penggunaan detergen yang berlebihan bisa membuat serat kain rusak, terasa kaku, bahkan meninggalkan bau tidak sedap pada mesin cuci. Sebaliknya, jika detergen terlalu sedikit, noda tidak akan hilang sepenuhnya dan pakaian tetap terlihat kusam.

Takaran detergen yang tepat

Dilansir dari Martha Stewart, menurut pakar laundry Patric Richardson, aturan umum yang bisa diikuti adalah menggunakan dua sendok makan deterjen untuk satu kali cuci penuh.

Takaran ini berlaku baik untuk deterjen cair maupun bubuk. Jika menggunakan sabun cuci (laundry soap), jumlahnya bahkan lebih sedikit, yaitu hanya satu sendok makan.

Meski sendok makan sudah cukup untuk sebagian besar cucian, ada beberapa hal yang bisa membuat takaran detergen perlu ditambah atau dikurangi, yakni:

Ukuran muatan cucian

Takaran dua sendok makan berlaku untuk satu muatan penuh. Jika hanya mencuci setengah muatan, takaran detergen juga cukup setengahnya. Misalnya hanya mencuci beberapa helai pakaian olahraga, maka satu sendok makan sudah cukup.

Jenis kain

Sebenarnya kain tipis maupun kain tebal tidak memerlukan jumlah detergen yang berbeda. Namun, kain tebal seperti handuk akan membuat mesin cuci lebih penuh sehingga membutuhkan takaran detergen sesuai kapasitasnya.

Tanda kamu menggunakan terlalu sedikit detergen

Tanda yang paling mudah dikenali adalah pakaian tidak benar-benar bersih. Noda masih tertinggal, terutama pada pakaian anak atau seragam olahraga yang biasanya terkena keringat dan kotoran. 

Jika detergen terlalu sedikit, sifat pembersihannya tidak cukup kuat untuk mengangkat noda, sehingga pakaian terlihat kusam dan tidak segar.

Tanda kamu menggunakan terlalu banyak detergen

Kesalahan yang lebih sering terjadi justru penggunaan detergen berlebihan. Mesin cuci modern menggunakan lebih sedikit air daripada model lama. Jadi, jika detergen terlalu banyak, sisa busa dan residunya tidak bisa hilang sepenuhnya.

Akibatnya, serat kain akan terlapisi lapisan detergen kering yang membuatnya terasa kaku, kurang menyerap, dan kehilangan kelembutannya. 

Handuk jadi kurang menyerap air, baju olahraga terasa panas dan tidak nyaman, sedangkan kain flanel kehilangan kelembutan alaminya.

Selain itu, penggunaan detergen berlebihan juga bisa meninggalkan bau apak pada mesin cuci. Sisa busa yang menumpuk di dalam tabung menjadi tempat berkembangnya jamur dan bakteri, yang kemudian menimbulkan aroma tidak sedap pada cucian.

Cara mengatasi residu detergen pada pakaian

Jika pakaianmu sudah terlanjur terkena penumpukan residu detergen, ada dua cara yang bisa dilakukan.

Pertama, dengan metode stripping laundry, yaitu merendam pakaian di bak mandi yang berisi air hangat, boraks, dan sedikit detergen, lalu diaduk beberapa kali sebelum dibilas kembali di mesin cuci.

Cara ini memang efektif, tetapi cukup melelahkan karena pakaian basah akan sangat berat untuk dipindahkan.

Cara kedua jauh lebih praktis, yaitu mulai menggunakan takaran detergen yang benar. Dengan pemakaian rutin sesuai anjuran, sisa residu pada pakaian akan hilang perlahan dalam 4-5 kali pencucian berikutnya.

https://www.kompas.com/homey/read/2025/09/07/083709676/berapa-banyak-detergen-yang-harus-digunakan-saat-mencuci-pakaian

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com