Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Jangan Asal, Kenali Tanda Tanah Rusak agar Tanaman Tidak Cepat Mati

KOMPAS.com - Tanaman dalam pot mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, namun media tanam di dalamnya memiliki batas usia yang kerap luput dari perhatian.

Kondisi tanah yang sudah menurun kualitasnya bisa menjadi penyebab tanaman sulit tumbuh optimal.

Seiring waktu, bahan organik seperti lumut gambut, kompos, dan sabut kelapa akan terurai. Jika dibiarkan, hal ini akan merusak drainase dan membuat tanaman sulit "bernapas".

Lantas, berapa lama tanah di dalam pot dapat digunakan kembali?

Dilansir dari laman Southern Living, Selasa (24/3/2026) media tanam yang belum dibuka biasanya tetap layak pakai selama 1-2 tahun jika disimpan di tempat yang sejuk dan kering, idealnya di bawah 21°C dengan kelembapan di bawah 50 persen.

Setelah dibuka, kualitasnya sering kali menurun dalam waktu 6-12 bulan, terutama jika terpapar udara atau kelembapan.

Dampak tanah rusak jika tetap digunakan

Penting untuk diketahui bahwa media tanam untuk menanam tanaman bukanlah tanah murni, melainkan tanah yang dirancang dengan campuran bahan organik.

Sayangnya, campuran bahan tersebut dapat terurai seiring waktu menjadi lebih padat dan compact serta mengurangi aliran udara di sekitar akar sehingga mempersulit tanaman untuk menyerap air.

Tanah yang rusak juga dapat berdampak stres pada tanaman seperti daun menguning, daun rontok atau pertumbuhan terhambat.

Tanda tanah sudah rusak

  • Bau busuk atau asam

Media tanam seharusnya segar dan beraroma tanah. Jika baunya seperti belerang atau apek, bisa jadi tanah tersebut mengandung jamur atau bakteri merugikan.

  • Terlihat jamur dan hama

Jika tampak agas jamur atau larva, ini menunjukkan kondisi tanah terlalu lembap yang ideal bagi pertumbuhan patogen.

  • Tekstur padat

Jika tanah terasa berat dan menggumpal, tandanya bahan organik di dalamnya sudah terurai total.

  • Drainase buruk

Tanah tidak lagi menyerap air dengan cepat atau air justru menggenang di permukaan.

Bisakah tanah pot bekas digunakan kembali?

Meski dapat menghambat pertumbuhan tanaman, tetapi tanah yang sudah rusak tidak perlu buru-buru dibuang.

Jika campuran tanah tersebut bebas dari jamur, hama, dan bau menyengat, media tanam tersebut dapat digunakan kembali. Caranya sederhana.

Selain itu, tanah rusak yang menunjukkan tanda penyakit atau aktivitas hama yang berat sebaiknya dibuang dari wadah atau pertimbangkan untuk dibuat kompos. 

Caranya, sebarkan tanah lama dalam lapisan tipis di tepi tumpukan kompos atau di bagian halaman yang tidak terpakai.

Biarkan selama setahun tanpa diganggu, agar cuaca dan waktu dapat secara alami menguraikan hama atau patogen. 

Cara menjaga tanah agar tetap awet

Penyimpanan yang tepat dapat memperpanjang umur media tanam. Jaga agar tanah yang disimpan di dalam kantong tetap tertutup rapat dan simpan di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari kelembapan.

Jika memungkinkan, pindahkan tanah di kantong yang terbuka di dalam wadah tertutup untuk mencegah jamur dan hama.

Meskipun secara teknis tidak kedaluwarsa, media tanam secara bertahap akan kehilangan kualitasnya seiring waktu.

Karena itu, perhatikan penyimpanan, tekstur, dan baunya agar dapat membantu menentukan apakah media tanam tersebut masih layak untuk digunakan berkebun.

Lebih baik, beli tanah secukupnya, tanah segar memberikan drainase, nutrisi, dan struktur yang lebih baik, yang membantu tanaman dalam pot tumbuh subur.

https://www.kompas.com/homey/read/2026/03/24/162209576/jangan-asal-kenali-tanda-tanah-rusak-agar-tanaman-tidak-cepat-mati

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com