Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Jerawat sampai Asma, Ini Bahaya Malas Mencuci Sarung Bantal

Kompas.com, 25 April 2021, 09:18 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

Sumber Bustle

JAKARTA, Kompas.com - Sama dengan seprei, sarung bantal juga harus rutin dicuci. Idealnya, mencuci seprai dan sarung bantal setiap seminggu sekali. Namun, masih diperbolehkan mencuci minimal dua minggu sekali bila tidak memungkinkan.

Sayangnya, meski hanya seminggu sekali, masih banyak orang yang mengabaikannya. Padahal, sarung bantal selalu digunakan saat tidur siang dan malam hari. Setidaknya, orang menghabiskan enam hingga delapan jam waktu tidur setiap malam. 

Baca juga: Sarung Bantal Sutra dan Satin Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak?

Kebersihan sarung bantal tidak hanya membuat tidur nyaman dan berkualitas, tapi juga menghindari kita dari berbagai penyakit. Pasalnya, sejumlah penelitian menemukan bahwa sarung bantal yang tidak dicuci secara teratur mengandung banyak bakteri, bahkan jumlahnya ribuan kali lebih banyak daripada wastafel di toilet.

Setiap malam, kita menyimpan 15 juta sel kulit mati ke sarung bantal. Sel-sel ini tidak hanya  menumpuk di sarung bantal, tetapi juga memberi makan ratusan ribu tungau yang biasa bersarang di bantal. Nah, berikut ini sederet bahaya yang mengintai bila malas mencuci sarung bantal dilansir dari laman Bustle

Baca juga: Ini Alasan Harus Mencuci Sarung Bantal Secara Teratur 

Memicu Jerawat

Menurut pelatih gaya hidup sehat bersertifikat, Liz Traines, tidak mengganti sarung bantal setiap minggu dapat memicu timbulnya jerawat dan membuat kulit lebih kusam. Kondisi ini tentu membuat tidak nyaman dan kurang percaya diri. Dengan rutin mencuci sarung bantal, tentunya bisa menghilangkan kuman yang bisa mengiritasi kulit dan menyebabkan jerawat. 

Imunitas Menurun 

Lantaran menampung banyak bakteri dan jamur, sarung bantal dapat menurunkan sistem kekebalan atau imunitas tubuh. Tubuh kehilangan kekuatan untuk melawan kuman dan bakteri penyebab penyakit. Akibatnya, rentan terhadap penyakit. 

Baca juga: Ingin Tidur Nyenyak? Letakkan Tanaman Herbal Ini di Sarung Bantal

Paling gampang kondisi ini dapat memicu risiko [enyakit asma, bronkitis, dan masalah pernapasan yang lebih besar yang ditimbulkan dari infeksi bakteri. Untuk itu, cuci sarung bantal setiap minggu untuk menjaga kesehatan agar tetap sehat dan produktif menjalankan aktivitas serta pekerjaan. 

Menyebabkan Alergi dan Asma

Philip Tierno, Direktur Mikrobiologi Klinis dan Imunologi di Pusat Medis Langone Universitas New York, mengatakan bakteri e-coli dapat terbawa ke tempat tidur, lalu menempel di sarung bantal. Selain itu, keringat yang keluar juga dapat terkena sarung bantal, yang dapat menyebabkan alergi dan asma. Jadi, cuci seprai setiap minggu untuk menghindari konsekuensi buruk ini. 

Baca juga: Kenapa Seprai dan Sarung Bantal di Hotel Berwarna Putih?

Mengganggu Kesehatan Mental

Selain kotor, sarung bantal yang tidak rutin dibersihkan dapat menimbulkan bau. Pamela Thacher, psikolog di St Lawrence University, New York, menuturkan, ketika tempat tidur berantakan dan bau, termasuk sarung bantal, dapat membuat kurang tidur, bahkan sulit tidur. Kondisi ini jelas bisa mengganggu kesehatan mental, yang akhirnya menyebabkan depresi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau