Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 8 November 2022, 17:43 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Residu air keras, kapur, dan penumpukan kalsium menjadi noda yang sering menumpuk atau terjadi pada keran air, baik keran dapur maupun keran kamar mandi. 

Sayangnya, noda-noda tersebut bisa sangat sulit dibersihkan. Bahkan, meski telah menggunakan produk pembersih keran, hal ini tidak selalu berhasil. 

Baca juga: 3 Cara Mudah Merawat Keran Air agar Tetap Berkilau dan Bebas Karat

Angela Brown, CEO Savvy Cleaner, perusahaan pembersih rumah, mengatakan rahasia  menjaga keran air tetap terlihat bagus adalah membersihkannya setiap hari. 

"Ingatlah selalu mengeringkan keran dan kenop setelah digunakan untuk mencegah air dengan sisa mineral mengering di atasnya."

Dilansir dari Better Homes and Gardens, Selasa (8/11/2022), berikut sejumlah cara membersihkan keran air untuk mencegah noda air keras menumpuk. 

Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Karat di Keran Air

Cara membersihkan keran air dengan sabun

Ilustrasi keran airPIXABAY/Mikes-Photography Ilustrasi keran air
Menurut Brown, sabun cuci piring ringan dan sikat gosok berbulu lembut atau spons gosok antigores dapat mencegah mineral terkumpul di sekitar kepala keran air saat sering digunakan.

Brown mencatat waktu terbaik melakukan cara ini adalah ketika keran air dalam keadaan lembap, seperti ketika uap telah terkumpul setelah mandi di kamar mandi atau dari mencuci piring di wastafel dapur. 

Cara membersihkan keran air dengan uap

Untuk noda air keras, kerak kapur, bahkan penumpukan karat, Brown menyarankan melakukan pembersihan uap.

"Sebuah uap genggam dengan lampiran berbulu lembut dapat menghilangkan penumpukan tanpa merusak lapisan dan tanpa menggunakan bahan kimia kuat," kata Brown. 

Baca juga: 7 Penyebab Aliran Air Keran Kecil dan Cara Mengatasinya 

Cara membersihkan keran air dengan cuka

Cuka putih sulingan adalah larutan pembersih yang populer digunakan di rumah, tetapi Brown menyarankan berhati-hati saat menggunakannya untuk membersihkan keran air.

Brown mencatat baja dapat menangani bahan kimia dan asam yang kuat, tapi pelapis atas, seperti yang ditemukan pada keran emas dan perunggu modern saat ini tidak bisa menghadapinya.

"Cuka pembersih putih memiliki pH 2,5 yang merupakan asam sangat kuat. Meski dapat menggerogoti kotoran pada kepala shower atau keran, cuka juga dapat melarutkan lapisan akhir dari perangkat keras sehingga membuatnya kusam atau berwarna berbeda."  

Baca juga: Cara Menghilangkan Korosi pada Keran Kamar Mandi

Namun, jika yakin material keran air tahan terhadap pembersih asam, Anda bisa menggunakannya. Caranya, isi kantong plastik dengan air dan cuka putih dengan perbandingan sama.

Setelah itu, masukkan kepala keran ke kantong plastik tersebut, lalu ikat kantong dengan karet gelang. Pastikan kepala keran air terendam.

Tunggu 30 menit hingga satu jam, lalu lepaskan kantong platik, jalankan keran air untuk mengeluarkan apa pun yang kendur di dalam kepala keran, lalu bilas dan keringkan keran.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau