Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Mencegah Anjing dan Kucing Terinfeksi Rabies Menurut Dokter Hewan

Kompas.com, 1 Oktober 2025, 11:48 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Virus rabies umumnya menyebar melalui gigitan hewan yang terinfeksi, entah anjing, kucing, monyet, musang, hingga hewan ternak, seperti sapi, kambing, domba, dan babi. 

Penularan virus rabies terjadi lewat media air liur hewan yang terinfeksi. Virus rabies juga bisa menular melalui cakaran atau luka terbuka yang terkena air liur hewan rabies. Biasanya, dengan cara dijilat. 

Baca juga: Hari Rabies Sedunia, Ketahui Ini Bahaya, Penularan, dan Gejalanya 

Virus rabies juga dapat menginfeksi manusia karena bersifat zoonosis, yakni penyakit pada binatang yang dapat ditularkan kepada manusia.

"Luka besar maupun kecil sekali pun dari gigitan atau cakaran bisa berpotensi tertular virus rabies," ucap Nur Purba Priambada, dipl. ACCM, dokter hewan sekaligus Manajer Animal Management Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dihubungi Kompas.com, Rabu (1/10/2025). 

Dokter Purbo, sapaan akrabnya, mengatakan virus rabies ada di air liur hewan yang terinfeksi rabies atau hewan pembawa rabies (HPR), kemudian akan ditularkan lewat serangan, misal gigitan atau cakaran yang terkontaminasi air liur.

Air liur yang mengandung virus rabies ini akan masuk dan menyebar lewat aliran darah. 

Begitu virus rabies masuk ke darah, dapat menyebabkan penyakit neurologis (gangguan yang menyerang sistem saraf, meliputi otak, sumsum tulang belakang, dan saraf). 

Baca juga: 6 Fakta Seputar Virus Rabies yang Menyerang Anjing dan Kucing 

Sayangnya, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi. Saat gejala rabies mulai terlihat, hampir 100 persen kemungkinan hewan atau manusia yang terinfeksi berujung pada kematian. 

"Gigitan atau cakaran sekecil apa pun dari hewan peliharaan tidak boleh anggap sepele, terlebih anjing dan kucing liar yang mempunyai tanda-tanda pembawa rabies," Purbo memperingatkan. 

Masa inkubasi virus rabies

Ilustrasi kucing terkena virus rabies yang ditandai dengan perilaku berubah menjadi sangat agresif.SHUTTERSTOCK/SerPhoto Ilustrasi kucing terkena virus rabies yang ditandai dengan perilaku berubah menjadi sangat agresif.
Dokter Purbo menjelaskan ketika gejala rabies muncul, bisa dapat bereskalasi cepat menjadi kasus fatal dalam hitungan jam hingga hari, termasuk potensi menyerang dan menularkan rabies ke manusia sekitar.

"Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan untuk penyakit rabies," kata Purbo yang telah berpengalaman menjadi dokter hewan satwa liar selama 15 tahun. 

Dilansir dari VCA Hospitals, masa inkubasi virus rabies (waktu hingga gejala klinis muncul) dapat bervariasi, dari 10 hari hingga satu tahun atau lebih.

Pada anjing, masa inkubasi biasanya dua minggu hingga empat bulan. Kecepatan perkembangan gejala klinis tergantung pada: 

Baca juga: 5 Cara Mencegah Virus Rabies pada Anjing dan Hewan Peliharaan

  • Lokasi infeksi. Semakin dekat gigitan dengan otak dan sumsum tulang belakang, semakin cepat virus mencapai jaringan saraf dan menyebabkan gejala. 
  • Keparahan gigitan. 
  • Jumlah virus rabies yang masuk melalui gigitan. 

“Masa inkubasi infeksi dapat bervariasi, tetapi biasanya dua hingga empat minggu, dan pemilik terkadang tidak menyadari anjing mereka telah digigit sehingga meningkatkan risiko anjing lain dan manusia juga terinfeksi," tambah dokter hewan, Corinne Wigfall, Dikutip dari AKC--situs Badan Pengasuhan Anjing asal Amerika Serikat.  

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau