Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada, Ini 6 Kebiasaan Sepele di Dapur yang Berbahaya

Kompas.com, 8 Februari 2026, 11:00 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Kebiasaan di dapur sering kali terbentuk dari pengalaman turun-temurun. Mulai dari mencairkan daging beku di meja dapur atau membiarkan makanan tersaji berjam-jam saat acara keluarga.

Karena terasa “biasa saja” dan jarang menimbulkan masalah, praktik-praktik ini kerap dianggap aman.

Namun, para ahli keamanan pangan menilai sebaliknya. Bakteri penyebab penyakit tidak membedakan makanan yang diolah di restoran atau di rumah.

Seperti dikatakan Patrick Guzzle dari National Restaurant Association, bakteri akan tetap berkembang dengan cara yang sama di lingkungan apa pun.

Baca juga: 6 Kebiasaan di Rumah yang Perlu Dilakukan Sebelum Jam 9 Pagi

Kebiasaan di dapur yang membahayakan

ilustrasi memasakfreepik ilustrasi memasak

Dilansir dari Allrecipes, berikut ini 6 kebiasaan dapur yang umum dilakukan, padahal berpotensi membahayakan kesehatan.

Mencairkan daging beku di suhu ruang

Banyak orang mencairkan daging beku dengan cara meletakkannya di meja dapur atau di wastafel sejak pagi. Cara ini memang praktis, tapi tidak disarankan.

Food and Drug Administration (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) hanya merekomendasikan tiga metode pencairan daging, yakni di dalam kulkas, direndam dalam air dingin (dengan air diganti setiap 30 menit), atau menggunakan microwave lalu langsung dimasak.

Saat daging mencair pada suhu ruang, bagian luarnya lebih cepat hangat dan dapat berada di zona bahaya, suhu ideal bagi bakteri seperti salmonella dan e. coli untuk berkembang biak.

Baca juga: Kebiasaan di Toilet yang Ternyata Bikin Saluran Mampet

Membiarkan makanan mendingin terlalu lama

Sup dalam panci besar sering dibiarkan di atas kompor hingga dingin sebelum disimpan.

Padahal, makanan dalam wadah besar mendingin tidak merata. Bagian tengahnya bisa tetap hangat selama berjam-jam dan berada di zona bahaya.

Cara yang dianjurkan adalah memindahkan makanan ke wadah kecil dan dangkal, mengaduk agar panas keluar lebih cepat, atau menggunakan rendaman air es untuk mempercepat pendinginan.

Menentukan kematangan dari warna dan tekstur

Banyak juru masak rumahan menilai makanan matang dari warna, suara mendesis, atau tekstur. Padahal, tampilan luar tidak selalu mencerminkan suhu di bagian dalam.

Baca juga: Dosen Elektro ITB Ungkap 9 Kebiasaan Sepele yang Bisa Sebabkan Kebakaran

Ayam bisa terlihat putih dan matang, sementara bagian dalamnya belum mencapai suhu aman.

Menurut ahli, satu-satunya cara paling akurat memastikan makanan matang dengan aman adalah menggunakan termometer makanan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau