Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Terlalu Tebal, Ini Panduan Memilih Sajadah yang Tepat

Kompas.com, 17 Februari 2026, 22:50 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

KOMPAS.com – Gema Ramadan mulai terasa di berbagai penjuru negeri. Tahun ini, umat muslim di Indonesia menyambut bulan suci dengan keragaman, di mana sebagian mulai menjalankan ibadah puasa pada Rabu, 18 Februari, dan sebagian lainnya pada Kamis, 19 Februari 2026.

Terlepas dari perbedaan tersebut, satu persiapan fisik yang sering kali luput dari perhatian namun krusial bagi kenyamanan ibadah jangka panjang adalah pemilihan sajadah.

Baca juga: Ini Warna Baru yang Paling Dicari Jelang Ramadan dan Lebaran

Ibadah Ramadan, terutama salat Tarawih yang melibatkan gerakan berulang dalam durasi lama, menuntut alas sujud yang tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga ergonomis.

Memilih sajadah yang tepat adalah investasi untuk kesehatan persendian dan kedalaman fokus ibadah Anda.

Material Katun, Wol, dan Sintetis

Langkah pertama dalam memilih sajadah adalah memahami karakteristik materialnya. Di iklim tropis seperti Indonesia, material katun menjadi primadona karena sifatnya yang menyerap keringat dan mudah dicuci.

Namun, bagi mereka yang mencari kemewahan dan ketahanan, wol menawarkan tekstur yang lebih lembut dan awet, meski membutuhkan perawatan ekstra.

Baca juga: DFI Nusantara Hadirkan Promo Menarik dari Guardian dan IKEA untuk Sambut Ramadan

Bagi muslim urban yang memiliki mobilitas tinggi, sajadah berbahan poliester atau sintetis sering menjadi pilihan karena ringan dan mudah dilipat ke dalam tas (travel-friendly).

Namun, pastikan material sintetis tersebut memiliki lapisan anti-selip di bagian bawah untuk menjamin keamanan saat digunakan di atas lantai marmer atau keramik yang licin.

Ketebalan yang Presisi

Banyak orang salah kaprah dengan memilih sajadah yang terlalu tebal seperti kasur. Secara teknis, sajadah yang terlalu empuk justru dapat mengganggu keseimbangan saat berdiri atau melakukan gerakan transisi dalam salat.

Baca juga: Sambut Idul Fitri Lebih Elegan, Nippon Paint Luncurkan Tren Warna Ramadan 2023

Di sisi lain sajadah tipis cocok untuk perjalanan atau salat di atas karpet masjid yang sudah tebal. Sementara sajadah medium sangat disarankan bagi lansia atau mereka yang memiliki masalah lutut (osteoartritis).

Ketebalan yang pas mampu meredam benturan tempurung lutut dengan lantai tanpa mengurangi kestabilan tumpuan kaki.

Dimensi, Portabilitas, dan Desain

Sajadah standar biasanya berukuran 60 cm x 110 cm. Namun, tren "sajadah saku" kini kian digemari.

Dalam memilih, pastikan ukuran sajadah tetap mampu mencakup seluruh titik sujud, mulai dari dahi hingga ujung jari kaki, untuk menjaga kebersihan dan validitas ruang sujud Anda, terutama saat berada di area publik.

Baca juga: in-Lite LED Hadirkan Keceriaan melalui Program Lights of Ramadan

Demikian halnya dengan desain yang terlalu ramai atau memiliki pola geometris yang membingungkan mata justru berisiko mendistruksi fokus saat salat.

Pilihlah desain yang minimalis dengan palet warna bumi (earthy tones) atau motif tradisional yang simetris.

Warna-warna tenang seperti biru tua, hijau zaitun, atau krem dapat membantu menurunkan tensi visual dan menciptakan suasana tenang di dalam batin sebelum memulai takbiratul ikram.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau