Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah di Balik Masjid Istiqlal yang Memakan Waktu 17 Tahun

Kompas.com, 28 Februari 2026, 19:16 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Pembangunan Masjid Istiqlal di Jakarta bukanlah proyek yang lahir dalam waktu singkat. Pembangunannya bahkan sempat terkendala sehingga beberapa kali dihentikan.

Mengutip Kompaspedia Harian Kompas, Ide pembangunan Masjid Istiqlal bermula pada 1950.

Saat itu, Menteri Agama KH Wahid Hasyim menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam untuk membahas rencana pendirian masjid nasional sebagai simbol kemerdekaan Indonesia.

Panitia kemudian mengadakan sayembara desain masjid dengan hadiah Rp 25.000 serta emas murni seberat 75 gram. Dari 27 karya yang masuk, rancangan bertema "Ketuhanan" karya arsitek Friedrich Silaban terpilih sebagai pemenang.

Menariknya, Silaban yang beragama Kristen menunjukkan keseriusan mendalam dalam merancang masjid tersebut.

Ia mempelajari referensi tentang kubah dan menara, mendalami tata cara ibadah umat Islam, serta menelaah literatur mengenai masjid-masjid besar dunia selama kurang lebih tiga bulan sebelum menyelesaikan desainnya.

Sejarah Masjid Istiqlal: Perdebatan Soekarno-Hatta

Penentuan lokasi masjid sempat memunculkan sejumlah usulan. Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah mengajukan kawasan Hotel Indonesia sebagai lokasi alternatif.

Baca juga: Sosok Friedrich Silaban, Anak Pendeta Perancang Masjid Istiqlal

Sebagian masyarakat juga mengusulkan area sekitar Monas atau Lapangan Medan Merdeka Barat. Namun, Presiden Soekarno akhirnya memilih lokasi yang kini ditempati Masjid Istiqlal.

Keputusan tersebut tidak mudah karena di atas lahan seluas 9,5 hektare itu sebelumnya berdiri Taman Wilhelmina yang difungsikan sebagai gudang mesiu dan tempat penyimpanan kendaraan militer.

Proses pembongkarannya pun cukup rumit karena menyangkut aspek teknis dan nilai historis kawasan tersebut.

Dalam pertemuan dengan para ulama di Istana Negara, Soekarno menyampaikan visinya agar Istiqlal menjadi masjid terbesar dan terindah di dunia.

Ia menginginkan bangunan yang tidak hanya megah, tetapi juga kokoh dan mampu bertahan hingga lebih dari 1.000 tahun sebagai simbol syiar Islam.

Baca juga: Rahasia Lantai Tawaf di Masjidil Haram Tetap Dingin saat Cuaca Panas

Visi tersebut tercermin dalam pemilihan material seperti stainless steel, marmer, dan keramik berkualitas tinggi untuk menjamin daya tahan bangunan dalam jangka panjang.

Pembangunan tersendat krisis

Setelah Silaban ditetapkan sebagai arsitek, pembangunan dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada 1961 oleh Presiden Soekarno. Namun, proses konstruksi tidak berjalan mulus.

Gejolak politik dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada dekade 1960-an, termasuk keterbatasan anggaran akibat krisis moneter, membuat pembangunan tersendat.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau