Penulis
KOMPAS.com - Pembangunan Masjid Istiqlal di Jakarta bukanlah proyek yang lahir dalam waktu singkat. Pembangunannya bahkan sempat terkendala sehingga beberapa kali dihentikan.
Mengutip Kompaspedia Harian Kompas, Ide pembangunan Masjid Istiqlal bermula pada 1950.
Saat itu, Menteri Agama KH Wahid Hasyim menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam untuk membahas rencana pendirian masjid nasional sebagai simbol kemerdekaan Indonesia.
Panitia kemudian mengadakan sayembara desain masjid dengan hadiah Rp 25.000 serta emas murni seberat 75 gram. Dari 27 karya yang masuk, rancangan bertema "Ketuhanan" karya arsitek Friedrich Silaban terpilih sebagai pemenang.
Menariknya, Silaban yang beragama Kristen menunjukkan keseriusan mendalam dalam merancang masjid tersebut.
Ia mempelajari referensi tentang kubah dan menara, mendalami tata cara ibadah umat Islam, serta menelaah literatur mengenai masjid-masjid besar dunia selama kurang lebih tiga bulan sebelum menyelesaikan desainnya.
Penentuan lokasi masjid sempat memunculkan sejumlah usulan. Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah mengajukan kawasan Hotel Indonesia sebagai lokasi alternatif.
Baca juga: Sosok Friedrich Silaban, Anak Pendeta Perancang Masjid Istiqlal
Sebagian masyarakat juga mengusulkan area sekitar Monas atau Lapangan Medan Merdeka Barat. Namun, Presiden Soekarno akhirnya memilih lokasi yang kini ditempati Masjid Istiqlal.
Keputusan tersebut tidak mudah karena di atas lahan seluas 9,5 hektare itu sebelumnya berdiri Taman Wilhelmina yang difungsikan sebagai gudang mesiu dan tempat penyimpanan kendaraan militer.
Proses pembongkarannya pun cukup rumit karena menyangkut aspek teknis dan nilai historis kawasan tersebut.
Dalam pertemuan dengan para ulama di Istana Negara, Soekarno menyampaikan visinya agar Istiqlal menjadi masjid terbesar dan terindah di dunia.
Ia menginginkan bangunan yang tidak hanya megah, tetapi juga kokoh dan mampu bertahan hingga lebih dari 1.000 tahun sebagai simbol syiar Islam.
Baca juga: Rahasia Lantai Tawaf di Masjidil Haram Tetap Dingin saat Cuaca Panas
Visi tersebut tercermin dalam pemilihan material seperti stainless steel, marmer, dan keramik berkualitas tinggi untuk menjamin daya tahan bangunan dalam jangka panjang.
Setelah Silaban ditetapkan sebagai arsitek, pembangunan dimulai dengan pemancangan tiang pertama pada 1961 oleh Presiden Soekarno. Namun, proses konstruksi tidak berjalan mulus.
Gejolak politik dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada dekade 1960-an, termasuk keterbatasan anggaran akibat krisis moneter, membuat pembangunan tersendat.