Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Ikan Endemik Betta burdigala Terancam, BRIN Lakukan Riset Domestikasi

Kompas.com, 13 Februari 2026, 09:57 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber BRIN

KOMPAS.com - Populasi ikan endemik Bangka Belitung, Betta burdigala, kini berada di ujung tanduk. Tekanan lingkungan dan eksploitasi yang terus berlangsung membuat jumlahnya di alam semakin menurun. Untuk mencegah kepunahan dan menjaga keberlanjutan spesies ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Bangka Belitung (UBB) memulai langkah strategis melalui riset domestikasi dan pemantauan keragaman genetik.

Kolaborasi ini dikemas dalam kegiatan bertajuk “Riset Domestikasi dan Pemantauan Keragaman Genetik Ikan Betta sp. Endemik Kepulauan Bangka Belitung Hasil Domestikasi”. Kerja sama tersebut ditandatangani dalam Rapat Koordinasi Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Lantai 6, KKB Kusnoto – BRIN Bogor, Kamis (5/2).

Baca juga: Berapa Lama Seekor Ikan Cupang Bisa Hidup?

Menyelamatkan Ikon Endemik Bangka Belitung

Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan Universitas Bangka Belitung, Riwan Kusmiadi, menegaskan pentingnya dukungan riset dari BRIN untuk mendukung program domestikasi dan pemulihan populasi Betta burdigala di habitat aslinya.

Menurutnya, ikan ini bukan sekadar spesies endemik biasa. Betta burdigala memiliki potensi besar menjadi ikon unggulan Bangka Belitung, baik dari sisi ekonomi maupun ekologi. Selain bernilai konservasi tinggi, ikan ini juga berpeluang dikembangkan sebagai komoditas perikanan hias yang berkelanjutan.

“Kerja sama ini sekaligus juga mendukung pemulihan populasi di habitat aslinya melalui domestikasi dan pengelolaan genetik secara berkelanjutan,” ujar Ahmad Fahrul Syarif, penanggung jawab riset dari Universitas Bangka Belitung.

Baca juga: 8 Cara Membedakan Ikan Cupang Jantan dan Betina

Status Kritis di Daftar Merah IUCN

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN, MH Fariduddin Ath-Thar, yang juga menjadi penanggung jawab riset dari pihak BRIN, menjelaskan bahwa langkah domestikasi menjadi sangat penting untuk memulihkan stok sekaligus menjaga keanekaragaman genetik di alam.

Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa beberapa spesies Betta endemik Bangka dan Belitung masuk kategori Terancam (Endangered/EN) hingga Rentan (Vulnerable/VU). Bahkan, Betta burdigala telah berstatus Sangat Terancam Punah (Critically Endangered) dalam Daftar Merah IUCN.

Status ini berarti risiko kepunahan di alam sangat tinggi jika tidak segera dilakukan intervensi konservasi berbasis ilmiah.

Baca juga: Ketahui, Ini Tanda Ikan Cupang Mau Mati

Tahapan Riset: Dari Hatchery hingga Restocking

Pada tahap awal, tim peneliti akan melakukan pemijahan Betta burdigala di lingkungan terkontrol sebagai langkah awal domestikasi. Proses ini bertujuan menghasilkan populasi hasil budidaya yang tetap mempertahankan kualitas genetik aslinya.

Tahapan berikutnya akan difokuskan pada evaluasi efektivitas hatchery serta program restocking atau pelepasliaran kembali ke habitat alami. Yang membedakan riset ini adalah adanya pemantauan keragaman genetik secara sistematis.

Pemantauan genetik sangat krusial dalam program konservasi modern. Tanpa pengelolaan genetik yang baik, populasi hasil budidaya berisiko mengalami penurunan variasi genetik, yang pada akhirnya justru melemahkan daya tahan spesies di alam.

Melalui riset ini, diharapkan lahir dasar ilmiah yang kuat untuk merumuskan rekomendasi konservasi genetik Betta burdigala. Lebih jauh lagi, model pengelolaan populasi yang dihasilkan dapat menjadi acuan dalam pemantauan keragaman genetik dan konservasi ikan endemik Indonesia secara lebih efektif dan efisien.

Baca juga: 8 Fakta Menarik Ikan Cupang, Suka Berkelahi dan Bisa Melompat

Dampak Lebih Luas bagi Riset dan Masyarakat

Kolaborasi antara PRZT BRIN dan Universitas Bangka Belitung ini diharapkan tidak hanya memperkuat sinergi antara lembaga penelitian dan perguruan tinggi, tetapi juga mempercepat pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat.

Riset domestikasi dan pemantauan genetik ini berpotensi memberikan dampak nyata, khususnya di sektor perikanan. Dalam jangka panjang, inovasi berbasis riset semacam ini dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional.

Lebih dari sekadar menyelamatkan satu spesies ikan, upaya ini menjadi contoh bagaimana pendekatan ilmiah, kolaborasi institusi, dan visi keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Betta burdigala bukan hanya warisan hayati Bangka Belitung, tetapi juga bagian dari kekayaan biodiversitas Indonesia yang perlu dijaga untuk generasi mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau