Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

China Uji Coba Robot Humanoid untuk Patroli Perbatasan, Apa Tugasnya?

Kompas.com, 13 Februari 2026, 12:45 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - China kembali membuat gebrakan di bidang teknologi robotika. Untuk pertama kalinya, robot humanoid—robot berbentuk menyerupai manusia—akan diterjunkan membantu tugas operasional di wilayah perbatasan yang sibuk dengan Vietnam. Proyek ini bukan sekadar demonstrasi kecanggihan teknologi, melainkan bagian dari langkah strategis untuk membawa robot humanoid ke ruang publik yang kompleks dan berisiko tinggi.

Perusahaan yang berada di balik proyek ini adalah UBTECH Robotics Corp., produsen robot asal Shenzhen yang telah lama mengembangkan humanoid berukuran manusia dewasa. Mereka memenangkan kontrak senilai 37 juta dolar AS untuk mengoperasikan unit Walker S2 di Kota Fangchenggang, Guangxi, mulai bulan ini. Kota pesisir tersebut merupakan salah satu pintu keluar-masuk utama antara China dan Vietnam, dengan lalu lintas truk kargo, bus, dan pelancong yang nyaris tak pernah berhenti.

Perbatasan sebagai Laboratorium Dunia Nyata

Mengapa perbatasan dipilih sebagai lokasi uji coba? Jawabannya terletak pada kompleksitasnya. Di titik perlintasan internasional, jadwal harus berjalan presisi, pemeriksaan tidak boleh terhenti, dan arus manusia serta kendaraan terus bergerak dalam ritme yang cepat. Situasi ini menciptakan lingkungan kerja yang jauh dari kata ideal bagi mesin.

Bagi para perencana teknologi China, justru di sinilah nilai uji sesungguhnya. Jika robot humanoid mampu beroperasi stabil di ruang publik yang padat, dinamis, dan diawasi ketat seperti perbatasan, maka penerapannya di bandara, pelabuhan, atau stasiun kereta api akan lebih mudah diterima.

Baca juga: Robot Humanoid China Ini Begitu Nyata, Sampai Harus “Dibedah” di Atas Panggung

Walker S2 dan Konsep “Embodied Intelligence”

Walker S2 dirancang menyerupai manusia dewasa, lengkap dengan kaki berengsel, dua lengan, dan tubuh proporsional. Desain ini memungkinkan robot bergerak di ruang yang sejak awal memang dirancang untuk manusia, seperti lorong sempit, tangga, atau area terbuka.

UBTECH mengembangkan robot ini dengan pendekatan yang disebut embodied intelligence, yakni kecerdasan buatan yang tidak hanya berada di dalam sistem komputer, tetapi terintegrasi langsung dengan tubuh fisik robot. Artinya, kecerdasan tersebut harus mampu beradaptasi dengan lingkungan nyata yang penuh ketidakpastian—lantai licin, cuaca panas, kerumunan orang, hingga kendaraan yang bergerak tiba-tiba.

Untuk menjaga keseimbangan dan menghindari tabrakan, Walker S2 memadukan kamera, sensor kedalaman, dan sensor gaya pada sendi-sendi tubuhnya. Sistem ini memungkinkan robot mendeteksi keberadaan manusia, membaca jarak, dan menyesuaikan gerakan secara real time. Ia juga dilengkapi sistem penggantian baterai otomatis, sehingga dapat menukar baterai sendiri tanpa bantuan manusia dan meminimalkan waktu henti operasional.

Berbeda dengan robot industri konvensional yang biasanya hanya melakukan satu tugas berulang di pabrik, Walker S2 dirancang sebagai pekerja serbaguna yang dapat berpindah dari satu fungsi ke fungsi lain.

Baca juga: China Bikin Robot Pertama di Dunia yang Bisa Berfungsi Sendiri 24/7

Dari Mengatur Antrean hingga Memeriksa Kontainer

Di Fangchenggang, robot humanoid ini tidak menggantikan petugas perbatasan, melainkan bertindak sebagai asisten. Mereka akan membantu mengarahkan antrean penumpang, memberikan informasi dasar, dan menjawab pertanyaan sederhana dari pelancong. Sebagian unit akan berpatroli di lorong dan ruang tunggu, memantau jalur evakuasi yang terhalang atau mendeteksi pola kerumunan yang berpotensi menimbulkan masalah.

Robot juga akan bergerak di jalur logistik kargo untuk membantu memeriksa identitas kontainer, memastikan segel keamanan, dan mengirim pembaruan status ke pusat kendali. Di luar area perbatasan, armada Walker S2 direncanakan melakukan inspeksi di fasilitas industri seperti baja, tembaga, dan aluminium—lingkungan yang menuntut ketahanan fisik dan presisi tinggi.

Peran-peran ini menunjukkan bahwa robot humanoid mulai bergeser dari sekadar atraksi teknologi menjadi bagian dari sistem kerja nyata.

Dukungan Negara dan Ambisi Industri

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Pada 2023, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China mengeluarkan panduan untuk membangun sistem inovasi nasional robot humanoid pada 2025. Setahun kemudian, pemerintah membuka konsultasi pembentukan komite teknis yang bertugas menyusun standar industri untuk robot humanoid.

Pemerintah China memandang robot humanoid sebagai industri strategis, sejajar dengan kecerdasan buatan dan semikonduktor. Uji coba di perbatasan menjadi cara untuk menguji aspek keamanan, keandalan, dan akuntabilitas dalam ruang publik yang diatur ketat.

Sementara itu, UBTECH mengklaim bahwa sepanjang 2025 pesanan seri Walker S2 telah mencapai sekitar 157 miliar dolar AS, termasuk kontrak dalam negeri dan pengadaan lainnya. Namun, perusahaan tersebut masih mencatat kerugian meskipun pendapatan meningkat. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa lonjakan pesanan dapat berubah menjadi keuntungan berkelanjutan, bukan sekadar respons terhadap tren global.

Robot Juga Perlu Dilatih

Sebelum diterjunkan ke lapangan, robot-robot ini menjalani pelatihan di pusat data robot humanoid di Distrik Shijingshan, Beijing. Fasilitas seluas sekitar 3.000 meter persegi itu menampung lebih dari 100 robot yang berlatih dalam lingkungan kerja simulatif.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau