Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keong Darat Chamalycaeus dayangmerindu, Spesies Baru yang Hanya Hidup di Sumatra Selatan

Kompas.com, 10 Maret 2026, 20:46 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber BRIN

KOMPAS.com - Indonesia kembali menambah daftar kekayaan biodiversitasnya. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan satu spesies baru keong darat yang diberi nama Chamalycaeus dayangmerindu. Spesies ini diketahui hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Ayu Savitri Nurinsiyah, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, bersama tim kolaborator dari Universitas Negeri Surabaya dan Széchenyi István University di Hungaria. Hasil riset mereka telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional ZooKeys pada 2026.

Baca juga: Fosil Keong 1 Juta Tahun Ditemukan di Taiwan, Ungkap Reproduksi Keong Air Tawar

Penelitian Panjang yang Dimulai Sejak 2021

Penemuan spesies ini bukanlah hasil penelitian singkat. Prosesnya dimulai sejak 2021 ketika tim melakukan pengambilan sampel sebagai bagian dari Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial: Karst di Sumatra, Indonesia.

Setelah pengumpulan sampel, para peneliti melanjutkan dengan penelitian taksonomi secara mendalam hingga 2025. Kajian tersebut meliputi pengamatan morfologi cangkang keong serta pembandingan dengan berbagai spesimen yang tersimpan dalam koleksi ilmiah.

Menurut Ayu, perjalanan untuk memastikan suatu organisme benar-benar merupakan spesies baru membutuhkan proses ilmiah yang panjang dan ketat.

“Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional,” ujar Ayu Savitri Nurinsiyah.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut mencakup berbagai tahap ilmiah seperti analisis morfologi, anatomi, atau genetika, perbandingan dengan spesies yang telah dikenal sebelumnya, serta penelaahan oleh para ahli dunia (peer review) sebelum akhirnya dipublikasikan di jurnal ilmiah.

“Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat,” kata Ayu.

Baca juga: Kenapa Siput dan Keong Jalannya Lambat?

Spesies Endemik yang Rentan

Hingga saat ini, Chamalycaeus dayangmerindu hanya diketahui hidup di kawasan karst Padang Bindu. Habitat yang sangat terbatas ini membuat spesies tersebut rentan terhadap berbagai perubahan lingkungan.

Ancaman seperti alih fungsi lahan, penambangan, maupun degradasi habitat karst berpotensi memengaruhi kelangsungan hidup keong kecil ini. Karena itu, dokumentasi ilmiah menjadi langkah penting untuk mendukung upaya konservasi.

Menurut Ayu, pengungkapan spesies baru tidak sekadar menambah daftar makhluk hidup yang diketahui manusia, tetapi juga menjadi dasar penting bagi perlindungan ekosistem.

Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi lintas institusi. Salah satu penulis dalam publikasi tersebut adalah Latifah Nurul Aulia, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian di BRIN.

Latifah bergabung melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan melanjutkan risetnya hingga tugas akhir melalui program Bantuan Riset bagi Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) BRIN.

Ayu berharap keterlibatan mahasiswa seperti Latifah dapat mendorong lahirnya generasi baru peneliti di bidang taksonomi dan biosistematika, bidang ilmu yang masih relatif jarang diminati.

“Tidak mudah mencari generasi penerus dalam bidang taksonomi dan biosistematika, lebih lagi pada kelompok keong. Semoga akan lebih banyak generasi muda yang ingin tahu dan peduli terhadap pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Dua Spesies Siput Laut Langka Ditemukan di Sulawesi Utara

Dipublikasikan di Jurnal Internasional Bereputasi

Temuan mengenai spesies baru ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi tinggi ZooKeys edisi 1272: 1–31 (2026). Artikel tersebut berjudul:

Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.”

Melalui penelitian ini, tim peneliti BRIN berharap eksplorasi biodiversitas di Indonesia—terutama pada kelompok moluska darat—dapat terus berkembang.

Upaya tersebut penting untuk memperkuat pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, sekaligus memastikan berbagai spesies unik yang hidup di habitat spesifik seperti kawasan karst tidak hilang sebelum sempat dipahami oleh ilmu pengetahuan.

Baca juga: Spesies Siput Baru Ditemukan di Maluku dan Dinamai Batubacan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau