Penulis
KOMPAS.com - Dalam dunia parfum, ada beberapa aroma yang hampir selalu dikaitkan dengan kemewahan dan kehangatan. Salah satunya adalah amber. Wangi ini sering muncul dalam deskripsi parfum pria maupun unisex—dikenal karena karakternya yang hangat, manis, sedikit resinous, dan tahan lama di kulit.
Namun, di balik popularitasnya, amber sebenarnya adalah salah satu istilah yang paling sering disalahpahami dalam dunia wewangian. Banyak orang mengira amber berasal dari batu amber yang biasa dijadikan perhiasan, atau dari resin (getah) tanaman Pinus succinifera yang menjadi fosil. Padahal dalam parfum modern, amber memiliki makna yang jauh lebih kompleks.
Dalam dunia wewangian, amber bukanlah bahan tunggal, melainkan sebuah akord aroma—yaitu komposisi beberapa bahan yang dipadukan untuk menghasilkan wangi tertentu. Akord amber klasik biasanya dibuat dari kombinasi:
Perpaduan ini menciptakan aroma yang hangat, resinous, manis, dan sedikit powdery—profil wangi yang kini dikenal sebagai “amber” dalam parfum.
Menariknya, batu amber fosil yang sering dijadikan perhiasan justru hampir tidak memiliki aroma yang kuat. Karena itu, parfum amber bukan berasal dari ekstrak batu tersebut, melainkan dari kreativitas para perfumer dalam menciptakan kesan aroma yang hangat dan “keemasan”.
Kata “amber” dalam bahasa Inggris berasal dari kata Arab anbar, yang awalnya merujuk pada ambergris, bahan wewangian lain yang berasal dari sekresi paus sperma. Seiring waktu, istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut resin fosil berwarna kuning yang kita kenal sekarang.
Namun aroma amber yang kita kenal saat ini sebenarnya berbeda dari bau ambergris yang cenderung animalik, melankan cenderung hangat manis karena dibuat ulang dengan resin tanaman seperti labdanum dan benzoin atau dengan molekul sintetis.
Baca juga: Rahasia Keistimewaan Parfum Arab: Aroma Mewah dari Kayu, Resin, Bunga Dicampur Tradisi
Aroma resin yang menyerupai amber telah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu. Di Mesir kuno, resin aromatik dibakar sebagai dupa dalam ritual keagamaan, sementara di Timur Tengah dan India minyak wangi berbasis resin digunakan untuk ritual spiritual dan perawatan tubuh.
Di Eropa abad pertengahan, aroma amber dan ambergris sering digunakan dalam pomander, bola parfum yang dibawa atau digantung di pakaian untuk menutupi bau tak sedap dan dipercaya mampu melindungi dari penyakit.
Baru pada awal abad ke-20, para perfumer mulai mengembangkan akord amber modern dalam parfum. Salah satu tonggak penting adalah parfum Ambre Antique karya François Coty pada 1908, yang membantu mempopulerkan gaya parfum amber dalam industri modern.
Sejak saat itu, amber menjadi fondasi penting dalam banyak parfum, terutama dalam keluarga aroma oriental atau ambery yang dikenal kaya, sensual, dan tahan lama.
Baca juga: Rahasia Ilmiah di Balik Aroma Hujan: Kisah Bakteri, Tanah, dan Senyawa Organik yang Harum
Amber sering digambarkan sebagai aroma yang hangat, dalam, dan membungkus. Profil aromanya biasanya memiliki beberapa karakter utama:
Karena molekulnya relatif berat, amber hampir selalu digunakan sebagai base note—lapisan aroma yang muncul paling akhir tetapi bertahan paling lama.
Aroma amber yang hangat dan intens ini biasanya paling ideal digunakan pada cuaca dingin atau musim hujan, karena kehangatannya terasa nyaman, atau pada malam hari, saat aroma yang lebih dalam terasa lebih elegan, juga di acara formal, seperti pesta atau makan malam romantis.
Baca juga: Dari Ritual Suci hingga Parfum: Jejak Panjang Tembakau dalam Dunia Wewangian
Parfum dengan aroma dasar tembakau, The One dari Dolce & GabbanaKeunggulan amber dalam parfum adalah fleksibilitasnya. Ia dapat berfungsi sebagai jembatan antara berbagai lapisan aroma.