Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Temuan pada Buaya Ungkap Misteri Baru: Cara Hitung Usia Dinosaurus Perlu Direvisi

Kompas.com, 16 Maret 2026, 23:58 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Physorg

KOMPAS.com - Menentukan usia hewan yang sudah mati—terutama hewan purba seperti dinosaurus—bukan perkara mudah. Para ilmuwan biasanya mengandalkan berbagai petunjuk yang tersimpan di dalam tulang. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa metode yang selama ini dianggap cukup akurat mungkin perlu ditinjau ulang.

Studi terbaru tentang buaya menunjukkan bahwa hewan ini bisa mengalami lebih dari satu siklus pertumbuhan dalam setahun. Temuan ini penting karena buaya merupakan kerabat dekat dinosaurus. Jika pola yang sama terjadi pada dinosaurus, maka sebagian estimasi usia dinosaurus yang selama ini digunakan mungkin tidak sepenuhnya tepat.

Baca juga: Bukan dari Tulang, Rahasia Usia Dinosaurus Ternyata Tersembunyi di Kulit Telurnya

Cara Ilmuwan Menentukan Usia Hewan dari Tulang

Dalam biologi dan paleontologi—ilmu yang mempelajari organisme purba—ada beberapa cara untuk memperkirakan usia kerangka hewan.

Salah satunya adalah melihat tingkat penyatuan sutura pada tulang, yaitu seberapa jauh pelat-pelat tulang telah menyatu saat hewan bertumbuh. Metode lain adalah memeriksa tekstur permukaan tulang.

Namun metode yang paling banyak digunakan adalah mempelajari tanda pertumbuhan (growth marks) pada struktur mikroskopis tulang.

Sebagian besar hewan modern tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama sepanjang tahun. Mereka biasanya mengalami periode pertumbuhan cepat pada musim yang menguntungkan, misalnya ketika makanan melimpah, suhu ideal, dan air tersedia cukup. Sebaliknya, pertumbuhan melambat pada musim yang kurang menguntungkan.

Perlambatan pertumbuhan ini meninggalkan jejak pada tulang, mirip seperti cincin pada batang pohon. Dengan menghitung jumlah tanda tersebut, ilmuwan dapat memperkirakan usia hewan.

Metode ini dikenal sebagai skeletochronology.

Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian telah mencoba menentukan kapan siklus pertumbuhan tersebut terbentuk dan bagaimana metode ini bisa digunakan untuk menentukan usia hewan.

Baca juga: Misteri Umur Dinosaurus: Mengapa Mereka Mati Muda?

Pentingnya Metode Ini dalam Studi Dinosaurus

Skeletochronology sangat penting dalam penelitian tentang reptil purba, termasuk dinosaurus.

Metode ini membantu ilmuwan menyusun grafik pertumbuhan dinosaurus dari waktu ke waktu, sekaligus membandingkan laju pertumbuhan berbagai spesies.

Informasi tersebut penting untuk memahami bagaimana hewan purba ini berkembang hingga mencapai ukuran raksasa.

Namun penelitian baru menunjukkan bahwa metode ini mungkin memiliki keterbatasan.

Baca juga: Nenek Moyang Buaya Ini Awalnya Berjalan dengan Empat Kaki, Lalu Beralih ke Dua Kaki

Black caiman, salah satu jenis buaya paling berbahaya.Wikimedia Commons Black caiman, salah satu jenis buaya paling berbahaya.

Penemuan Mengejutkan pada Kerabat Buaya

Peneliti dari laboratorium paleobiologi di University of Cape Town sebelumnya menemukan sesuatu yang tidak terduga ketika mempelajari caiman muda—reptil yang masih satu keluarga dengan buaya dan aligator.

Pada hewan yang berusia kurang dari satu tahun, para peneliti sudah menemukan tanda pertumbuhan pada tulangnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau