Penulis
“Mereka sangat sulit dimatikan,” kata Summers.
Selain itu, mikroorganisme yang hidup di dasar laut juga berpeluang bertahan. Mereka tidak bergantung pada fotosintesis, melainkan menggunakan chemosynthesis—memanfaatkan energi kimia dari batuan dan mineral.
Baca juga: Begini Prediksi Para Ahli Bila Kiamat Terjadi
Kabar baiknya, skenario Matahari menghilang secara tiba-tiba hampir mustahil terjadi.
Namun, Matahari tetap memiliki siklus hidup. Sekitar 5 miliar tahun lagi, ia akan kehabisan bahan bakar dan mengembang menjadi raksasa merah. Dalam fase ini, Merkurius dan Venus akan tertelan, dan Bumi kemungkinan mengalami nasib serupa.
Bahkan sebelum itu, peningkatan panas Matahari diperkirakan akan menguapkan seluruh lautan Bumi dalam waktu sekitar 1 miliar tahun ke depan.
Meskipun terdengar seperti cerita fiksi ilmiah, mempelajari kemungkinan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana bintang bekerja dan bagaimana alam semesta berevolusi.
“Semakin kita memahami bintang dan bagaimana mereka berubah, kita semakin memahami alam semesta,” kata Summers.
Pada akhirnya, skenario ini mengingatkan satu hal penting: kehidupan di Bumi sangat bergantung pada keseimbangan yang rapuh—dan Matahari adalah pusat dari semuanya. Tanpanya, dunia yang kita kenal akan lenyap dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Baca juga: Berubah Dramatis, Bintang Raksasa di Galaksi Tetangga Bakal Meledak
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang