Editor
KOMPAS.com – Perbedaan Jumat Agung dan Paskah sering menjadi pertanyaan di kalangan umat Kristiani, terutama saat memasuki rangkaian Tri Hari Suci.
Keduanya memang saling berkaitan erat, tetapi memiliki makna, fokus, dan suasana yang berbeda dalam perayaan iman.
Memahami perbedaan ini penting agar umat dapat menghayati Misteri Paskah secara utuh, dari pengorbanan di salib hingga kemenangan kebangkitan.
Baca juga: Jumat Agung 2026 Tanggal Berapa? Ini Maknanya
Jumat Agung (dalam bahasa Inggris disebut Good Friday) adalah hari peringatan penyaliban dan wafat Yesus Kristus di kayu salib.
Hari ini menjadi puncak pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menanggung dosa umat manusia.
Sementara itu, Paskah (atau Minggu Paskah / Easter) adalah perayaan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian pada hari ketiga. Paskah menjadi hari kemenangan atas dosa dan maut, serta dasar utama iman Kristen.
Menurut Yohanis Banamtuan (2022) dalam Jurnal Apokalupsis, istilah “Jumat Agung” berpotensi mengaburkan makna Paskah yang sesungguhnya.
Dalam Alkitab, Paskah seharusnya dipahami sebagai satu kesatuan dari peristiwa kematian hingga kebangkitan Kristus, sesuai tipologi anak domba dalam Keluaran 12.
Hari penyaliban Yesus itu sendiri merupakan bagian integral dari Paskah, bukan hari terpisah.
Stenly Vianny Pondaag dan Checilia Cindy Jenifer Alida Pinedendi (2023) dalam MEDIA: Jurnal Filsafat dan Teologi menekankan bahwa Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah) merupakan satu kesatuan liturgis dan teologis yang merayakan Mysterium Paschale (Misteri Paskah), yaitu sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.
Baca juga: Mengapa Dinamakan Jumat Agung?
Tabel ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda, keduanya tidak dapat dipisahkan. Jumat Agung adalah jalan menuju Paskah, dan Paskah adalah buah dari pengorbanan di salib.
Melalui kajian tipologi bahwa dalam Perjanjian Lama, Paskah Yahudi melibatkan penyembelihan anak domba untuk melindungi dari tulah maut.
Yesus sebagai Anak Domba Allah menjadi antitipe sempurna. Oleh karena itu, hari kematian Yesus sebenarnya adalah inti Paskah itu sendiri.
Memisahkan “Jumat Agung” sebagai hari kematian saja dapat menimbulkan miskonsepsi bahwa Paskah hanya tentang kebangkitan.
Liturgi Jumat Agung merenungkan sengsara Tuhan dalam konteks keseluruhan Misteri Paskah. Penghormatan salib bukan akhir, melainkan pintu masuk menuju kemenangan kebangkitan.