Namun, temuan ini menunjukkan potensi besar daur ulang berbasis bakteri untuk menghasilkan produk yang benar-benar bermanfaat.
Baca juga: Warganet Keluhkan Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Dampak Penutupan Selat Hormuz?
Ahli bioteknologi dari University of Edinburgh Stephen Wallace mengatakan bahwa penelitian itu baru permulaan.
“Ini terasa seperti baru permulaan. Jika kita bisa membuat obat penyakit neurologis dari botol plastik bekas, menarik untuk membayangkan apa lagi yang bisa dicapai teknologi ini,” ujar Stephen.
Ia menambahkan, limbah plastik sering dianggap sebagai masalah lingkungan, padahal sebenarnya merupakan sumber karbon yang besar dan belum dimanfaatkan.
Dengan rekayasa biologi, limbah tersebut bisa diubah menjadi obat penting yang mendukung kesehatan manusia.
Para peneliti mengakui bahwa meskipun seluruh produksi levodopa dunia menggunakan metode ini, dampaknya terhadap sekitar 100 juta ton limbah plastik global setiap tahun tetap terbatas.
Namun, penelitian ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas.
Para ilmuwan kini semakin sering menemukan cara berkelanjutan untuk mengubah plastik menjadi produk lain, alih-alih membiarkannya mencemari lingkungan atau menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Sebelumnya, tim dari laboratorium yang sama juga berhasil merekayasa E. coli untuk mengubah plastik PET menjadi parasetamol. Hal ini menunjukkan potensi besar dari teknologi ini.
Upaya lain juga dilakukan untuk mengembangkan plastik yang lebih mudah terurai sejak awal, sehingga lebih ramah lingkungan setelah digunakan.
Selain itu, produksi obat penting dari limbah yang melimpah tentu menjadi alternatif menarik dibandingkan terus bergantung pada bahan bakar fosil yang semakin menipis.
“Penelitian ini menunjukkan potensi besar rekayasa biologi dalam mengatasi tantangan besar yang dihadapi masyarakat,” kata Charlotte Deane, ketua eksekutif EPSRC.
Baca juga: BPOM Temukan 41 Obat Bahan Alam Mengandung BKO Berbahaya, Apa Saja?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang