Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan

Kompas.com, 1 April 2026, 12:47 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

Sumber AFP

TEHERAN, KOMPAS.com - Satu bulan setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu, wajah Teheran berubah drastis.

Bagi Fatemeh (27), asisten dokter gigi di Teheran, segelas kopi di kafe adalah satu-satunya cara untuk meyakinkan diri bahwa kiamat belum tiba.

"Ketika saya berhasil duduk di meja kafe, bahkan hanya beberapa menit, saya hampir bisa percaya bahwa dunia belum berakhir," kata dia, dikutip dari AFP, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, kunjungan singkat ke kafe adalah upaya untuk "keluar dari perang" dan membayangkan kembali kehidupan normal yang kini terasa sangat mewah.

Jika jeda dalam pengeboman memungkinkan tidur malam yang lebih nyenyak, Fatemeh akan berdandan dan berpakaian rapi untuk membuat kunjungannya ke kafe menjadi lebih istimewa.

Baca juga: AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?

Kehidupan jauh dari normal

Warga Teheran menggambarkan kotanya masih menjalani rutinitas, dengan kafe dan restoran yang buka, tidak ada kekurangan yang dilaporkan di supermarket atau SPBU, dan orang-orang berusaha mempertahankan sebagian kehidupan sosial mereka.

Akan tetapi, mereka tahu bahwa kehidupan jauh dari normal karena AS dan Israel terus menerus melakukan pengeboman terhadap sejak 28 Februari.

Terdapat pos pemeriksaan keamanan di jalan-jalan yang dulunya tenang dan internet telah diblokir atau diperlambat secara drastis untuk semua hal kecuali layanan domestik.

Jendela-jendela rumah juga ditutup dengan lakban untuk mencegahnya pecah jika terjadi serangan.

Baca juga: Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon

Kekhawatiran akan masa depan pasca-perang

Selain rasa takut terbunuh atau kehilangan orang tercinta, warga juga diliputi kecemasan tentang masa depan, tentang negara seperti apa yang akan mereka tinggali, dan bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup di tengah perekonomian yang runtuh.

Warga yang setuju untuk berbagi pesan dengan AFP hanya memberikan nama depan mereka karena takut akan konsekuensi jika identitas mereka diketahui oleh pihak berwenang.

"Akhir-akhir ini, saya lebih banyak tinggal di rumah dan hanya keluar jika benar-benar terpaksa. Satu-satunya hal yang tersisa dari rutinitas hidup saya sebelum perang yang membantu saya tetap bersemangat adalah memasak," ungkap Shahrzad (39).

"Terkadang saya mendapati diri saya menangis di tengah-tengahnya. Saya merindukan hari-hari biasa, kehidupan di mana saya tidak perlu terus-menerus memikirkan ledakan, kematian, atau kehilangan orang-orang yang saya cintai," lanjutnya.

Kendati demikian, ia berusaha tetap kuat demi putrinya.

"Tapi ketika aku memikirkan masa depan, aku tidak bisa membentuk gambaran yang jelas dalam pikiranku yang bisa kupegang dengan harapan," ujarnya.

Baca juga: Presiden Iran Nyatakan Siap Akhiri Perang, Asalkan...

Halaman:


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau