Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan

Kompas.com, 1 April 2026, 12:47 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

Sumber AFP

Perayaan Nowruz yang muram

Selama seminggu terakhir, warga Teheran telah berusaha sebaik mungkin untuk merayakan hari raya tradisional Persia, Nowruz.

Ini merupakan sebuah festival yang biasanya membuat orang meninggalkan kota atau merayakannya di rumah bersama keluarga.

"Tidak ada kelaparan, semuanya tersedia. Kafe buka, dan kami masih pergi ke kafe. Ada bensin, air, dan listrik," kata Shayan (40), seorang fotografer.

"Namun, ada rasa ketidakberdayaan dalam diri kita semua. Kita tidak tahu harus berbuat apa dan sebenarnya tidak ada yang bisa kita lakukan. Tidak ada suasana Nowruz yang sesungguhnya sama sekali, tetapi kami mencoba memaksakan diri," tambahnya. 

Baca juga: Trump Umumkan Perang Lawan Iran Berakhir 3 Minggu Lagi, AS Segera Tarik Pasukan

Meskipun toko dan restoran buka hingga pukul 21.00, banyak orang tidak keluar rumah setelah siang hari.

Sebagai kelanjutan dari tren yang dimulai beberapa bulan sebelum perang, semakin banyak perempuan yang secara terbuka tidak mengenakan jilbab.

Televisi pemerintah bahkan mewawancarai perempuan yang tidak mengenakan penutup kepala di berbagai demonstrasi, asalkan mereka menyatakan sentimen pro-pemerintah.

Baca juga: Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah

Rindu tidur malam dengan tenang

Elnaz (32), seorang pelukis yang tinggal di Teheran, mengaku teringat betapa dia merindukan hidup sederhana.

"Kami merindukan hal-hal sederhana, seperti pergi keluar malam atau sekadar bisa pergi ke bagian lain kota," jelas dia. 

"Aku merindukan hal sesederhana berbelanja di tempat lain selain toko kelontong kecil atau toko roti di jalan tempatku tinggal. Aku rindu membaca di kafe, pergi ke taman, semua hal yang sangat, sangat sederhana itu," lanjutnya.

Namun, hal yang paling dirindukannya adalah tidur malam dengan tenang.

Baca juga: Eskalasi Memanas, AS Terbangkan Bomber B-52 Langsung di Atas Daratan Iran

Menurutnya, pada beberapa malam, serangan begitu hebat sehingga terasa seperti seluruh Teheran bergetar.

"Semuanya kembali pada satu hal, bertahan hidup. Hanya memikirkan bagaimana tetap hidup bersama semua orang yang saya cintai. Teman-teman saya, keluarga saya, dan orang-orang di kota saya, yang terlihat lebih baik dari sebelumnya di masa sulit ini," katanya.

Suasana muram, menurut warga, diperparah oleh cuaca hujan yang tidak biasa dan kontras dengan sinar matahari musim semi yang biasa dinikmati orang-orang saat Nowruz.

Potret anak-anak yang tewas dalam serangan dipajang di alun-alun, sementara bendera raksasa Iran menutupi bangunan-bangunan yang telah hancur menjadi reruntuhan.

"Pada akhirnya, bagi banyak orang, kekhawatiran terpenting adalah masa depan Iran dan rakyatnya, sertaa apa yang sebenarnya dapat memperbaiki situasi," tutur warga bernama Kaveh (38).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau