Penulis
Selama seminggu terakhir, warga Teheran telah berusaha sebaik mungkin untuk merayakan hari raya tradisional Persia, Nowruz.
Ini merupakan sebuah festival yang biasanya membuat orang meninggalkan kota atau merayakannya di rumah bersama keluarga.
"Tidak ada kelaparan, semuanya tersedia. Kafe buka, dan kami masih pergi ke kafe. Ada bensin, air, dan listrik," kata Shayan (40), seorang fotografer.
"Namun, ada rasa ketidakberdayaan dalam diri kita semua. Kita tidak tahu harus berbuat apa dan sebenarnya tidak ada yang bisa kita lakukan. Tidak ada suasana Nowruz yang sesungguhnya sama sekali, tetapi kami mencoba memaksakan diri," tambahnya.
Baca juga: Trump Umumkan Perang Lawan Iran Berakhir 3 Minggu Lagi, AS Segera Tarik Pasukan
Meskipun toko dan restoran buka hingga pukul 21.00, banyak orang tidak keluar rumah setelah siang hari.
Sebagai kelanjutan dari tren yang dimulai beberapa bulan sebelum perang, semakin banyak perempuan yang secara terbuka tidak mengenakan jilbab.
Televisi pemerintah bahkan mewawancarai perempuan yang tidak mengenakan penutup kepala di berbagai demonstrasi, asalkan mereka menyatakan sentimen pro-pemerintah.
Baca juga: Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
Elnaz (32), seorang pelukis yang tinggal di Teheran, mengaku teringat betapa dia merindukan hidup sederhana.
"Kami merindukan hal-hal sederhana, seperti pergi keluar malam atau sekadar bisa pergi ke bagian lain kota," jelas dia.
"Aku merindukan hal sesederhana berbelanja di tempat lain selain toko kelontong kecil atau toko roti di jalan tempatku tinggal. Aku rindu membaca di kafe, pergi ke taman, semua hal yang sangat, sangat sederhana itu," lanjutnya.
Namun, hal yang paling dirindukannya adalah tidur malam dengan tenang.
Baca juga: Eskalasi Memanas, AS Terbangkan Bomber B-52 Langsung di Atas Daratan Iran
Menurutnya, pada beberapa malam, serangan begitu hebat sehingga terasa seperti seluruh Teheran bergetar.
"Semuanya kembali pada satu hal, bertahan hidup. Hanya memikirkan bagaimana tetap hidup bersama semua orang yang saya cintai. Teman-teman saya, keluarga saya, dan orang-orang di kota saya, yang terlihat lebih baik dari sebelumnya di masa sulit ini," katanya.
Suasana muram, menurut warga, diperparah oleh cuaca hujan yang tidak biasa dan kontras dengan sinar matahari musim semi yang biasa dinikmati orang-orang saat Nowruz.
Potret anak-anak yang tewas dalam serangan dipajang di alun-alun, sementara bendera raksasa Iran menutupi bangunan-bangunan yang telah hancur menjadi reruntuhan.
"Pada akhirnya, bagi banyak orang, kekhawatiran terpenting adalah masa depan Iran dan rakyatnya, sertaa apa yang sebenarnya dapat memperbaiki situasi," tutur warga bernama Kaveh (38).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang