200.000 Sel Otak Manusia Digabung ke Chip Komputer, Lalu Dilatih Main Game "Doom"

Kompas.com, 20 Maret 2026, 11:31 WIB
Bill Clinten,
Wahyunanda Kusuma Pertiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sekelompok ilmuwan berhasil melatih sekitar 200.000 sel otak manusia (neuron) yang ditumbuhkan di laboratorium untuk memainkan game shooter klasik rilisan 1993, Doom.

Eksperimen ini dilakukan oleh perusahaan bioteknologi asal Australia, Cortical Labs.

Dalam sebuah demonstrasi video, para peneliti menunjukkan bahwa kumpulan sel otak tersebut dapat mengontrol karakter di dalam game, seperti bergerak dan menembak musuh.

Menariknya, sel-sel otak yang dikembangkan di laboratorium itu tidak dikendalikan secara langsung oleh manusia saat permainan berlangsung.

Sebaliknya, aktivitas sel tersebut diterjemahkan oleh komputer menjadi berbagai aksi karakter di dalam game. Lantas, bagaimana sel otak bisa memainkan game Doom?

Baca juga: Game Klasik Doom Jadi Metode Captcha, Harus Lawan Musuh untuk Verifikasi

Menggunakan komputer khusus

Ilustrasi banyak sistem komputer CL1 yang terhubung dalam jaringan Cortical Cloud.Cortical Labs Ilustrasi banyak sistem komputer CL1 yang terhubung dalam jaringan Cortical Cloud.

Cortical Labs menjelaskan bahwa eksperimen ini menggunakan sistem komputasi biologis bernama CL1 yang terhubung dalam sebuah jaringan bernama Cortical Cloud.

Sistem ini pada dasarnya menggabungkan sel otak manusia yang masih hidup dengan chip komputer, sehingga keduanya bisa saling berinteraksi.

Dalam percobaan ini, neuron manusia ditumbuhkan di atas chip kecil yang dilengkapi dengan elektroda.

Elektroda ini berfungsi untuk mengirimkan sinyal listrik ke sel otak sekaligus membaca respons yang dihasilkan sel tersebut. Sel-sel otak ini sendiri dijaga tetap hidup di dalam cairan nutrisi.

Chip dikombinasikan dengan sel otak yang dilatih untuk bermain game Doom.Cortical Labs Chip dikombinasikan dengan sel otak yang dilatih untuk bermain game Doom.

Nah, aktivitas di dalam game nantinya akan diterjemahkan oleh komputer menjadi rangkaian sinyal listrik yang dikirimkan ke jaringan sel otak.

Sebagai contoh, ketika musuh muncul di sisi kiri layar, sistem akan mengirimkan sinyal listrik tertentu ke sel otak. Sel tersebut kemudian merespons dengan menghasilkan sinyal listrik lain.

Respons ini lalu diterjemahkan kembali oleh komputer menjadi aksi karakter di dalam game, misalnya bergerak, berputar, atau menembak saat melihat musuh.

Baca juga: Game Legendaris Doom Dirilis Ulang, Ada Peta Baru

Masih sering kalah, tetapi mulai belajar

Meski terdengar canggih, kemampuan sel otak ini masih sangat terbatas.

Menurut peneliti, performa jaringan neuron tersebut masih menyerupai pemain pemula yang baru pertama kali mencoba game.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau