Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tips Merawat Bunga Potong agar Tetap Segar dan Tahan Lama

Kompas.com, 19 November 2021, 08:32 WIB
Aniza Pratiwi,
Esra Dopita Maret

Tim Redaksi

Sumber Hunker

JAKARTA, KOMPAS.com - Bunga potong segar dapat mempercantik, mencerahkan,  menambahkan warna ke rumah atau ruangan yang membosankan.

Namun, bunga potong tidak bertahan lama dan membutuhkan perawatan khusus yang mencakup pemangkasan batang, memberikan nutrisi, serta menjaga air tetap bersih sehingga bunga potong tetap segar juga tahan lama. 

Selain perawatan di atas, ada perawatan lain yang perlu dilakukan agar bunga potong tetap segar dan tahan lama seperti dilansir dari dari Hunker, Jumat (19/11/2021), berikut ini. 

Baca juga: Air Dingin, Hangat, dan Panas, Mana yang Baik untuk Bunga Potong? 

Bunga yang dibeli di toko

Bunga yang dibeli di toko bunga atau diterima melalui pengiriman dan disimpan dalam vas memerlukan perawatan tepat agar tetao mekar dan segar.

Sebelum memasukkan bunga potong ke vas, potong batangnya secara miring sehingga membuat potongan segar pada batang bunga memungkinkan menyerap air lebih efektif, yang akan membantu memaksimalkan umur buket.

Setelah tiga hari, buang air tersebut, lalu potong kembali pada batang bunga, dan tambahkan air baru. Lakukan mengganti air setiap tiga hari sampai bunga layu. 

Baca juga: Ingin Rangkaian Bunga Potong Bertahan Lama? Lakukan Cara Ini 

Bunga potong segar

Menanam bunga segar, memotongnya, dan membawanya ke rumah hanyalah salah satu manfaat berkebun sendiri.

Sebaiknya, memotong bunga pada pagi hari atau malam hari ketika cuaca lebih dingin daripada tengah hari. Buang daun yang akan berada di bawah permukaan air dan isi vas dengan air tawar.

Ganti air dalam vas setiap dua hari dan potong batang bunga secara miring. Pastikan mengganti air, bukan hanya menambahkan air ke vas. Air asli penuh dengan bakteri yang bisa menyumbat bunga tetap segar. 

Baca juga: Cara Menjaga Bunga Potong agar Segar Lebih Lama 

Suhu air

Ilustrasi bunga potong di dalam vas. PIXABAY/COUNSELLING Ilustrasi bunga potong di dalam vas.
Bunga potong harus ditempatkan dalam air hangat bersuhu sekitar 43 derajat Celsius. Air hangat adalah yang terbaik karena bunga akan menyerap air lebih cepat pada suhu ideal daripada air yang sangat dingin atau sangat panas.

Pada suhu 43 derajat Celsius , molekul air bergerak sangat cepat dan dengan mudah dapat naik dari batang yang baru dipotong ke bunga.

Pergerakan cepat air hangat ke bunga ini juga akan membantu bunga mekar lebih cepat daripada disimpan dalam air panas atau dingin. 

Baca juga: Cara Merawat Bunga Bleeding Heart, Bentuknya Unik dan Cantik 

Menggunakan pengawet

Ketika bunga dipotong dari batangnya, bunga akan kehilangan semua sumber makanannya. Untuk memperpanjang umur bunga, Anda harus membantu mendukung bunga dengan mengganti nutrisi untuk batang dan daun dengan suplemen.

Kebanyakan toko bunga akan mengirimkan bunga potong segar dengan paket pengawet yang mengandung sukrosa, acidifier, dan penghambat pernapasan. 

Baca juga: Cara Menanam dan Merawat Tanaman Bunga Kecombrang

Pengawet komersial seperti ini harus ditambahkan ke vas setiap kali air diganti. Beberapa orang menyarankan menambahkan aspirin, gula, atau pemutih ke dalam air bunga. 

Namun, Departemen Ilmu Hortikultura Universitas Minnesota, Amerika Serikat, mengklaim bahwa hal ini hanyalah "kisah lama" dan tidak akan menyuburkan bunga sama sekali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau