Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Malaysia Potong Kuota BBM Subsidi RON 95 Imbas Konflik Timur Tengah, Bagaimana dengan Harganya?

Kompas.com, 27 Maret 2026, 12:30 WIB
Aditya Priyatna Darmawan,
Albertus Adit

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Malaysia akan memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi RON 95 mulai 1 April 2026.

BBM bersubsidi akan dipotong hingga sepertiga dari kuota seharusnya, sehingga warga Malaysia hanya dapat membeli maksimum 200 liter per bulan.

Adapun kuota BBM subsidi seharusnya sebesar 300 liter, sehingga pemerintah memotong batasan pembelian sebanyak 100 liter per bulan.

Langkah tersebut diambil di tengah-tengah krisis energi yang semakin parah akibat konflik di Timur Tengah.

“Langkah ini bersifat sementara, sambil menunggu pemulihan pasokan minyak global dan kondisi ekonomi, meskipun belum ada tanda-tanda perbaikan yang jelas,” kata Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim dikutip dari TheStraitsTimes, Kamis (26/3/2026).

Dia menyebut, pemerintah Malaysia “terpaksa” mengurangi kuota BBM subsidi karena negara tersebut menghadapi tekanan biaya yang meningkat.

Sebagai informasi, konflik atau perang di Timur Tengah terjadi sejak 28 Februari 2026 yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan melancarkan berbagai serangan ke Iran.

Akibatnya, Selat Hormuz hingga kini ditutup oleh Iran dan harga minyak global melonjak serta pasokan terhambat.

Baca juga: Wacana WFH untuk Hemat BBM, Pakar UGM: Harus Dikalkulasi Efisiensinya

Harga tidak berubah

Anwar memastikan bahwa harga BBM subsidi RON 95 di bawah skema Budi95 sebesar 1,99 ringgit Malaysia (sekitar Rp 8.400) per liter.

Adapun skema subsidi BBM tersebut diperkenalkan pada September 2025 lalu. Tanpa subsidi, BBM RON 95 seharga 3,97 ringgit (sekitar Rp 16.800) per liter.

“Semua negara, terutama negara-negara tetangga, telah menaikkan harga minyak, tetapi Malaysia memutuskan untuk mempertahankan harga Budi95 sebesar RM1,99,” terang Anwar.

Sementara itu, batasan BBM RON 95 untuk layanan transportasi daring dan pekerja lepas akan tetap 800 liter.

Baca juga: Krisis BBM Hantam Bangladesh, Pasokan Seret dan Antrean Mengular di SPBU

Disebut tidak akan pengaruhi mayoritas warga

Anwar menyebut, pengurangan kuota BBM subsidi RON 95 kemungkinan tidak akan memengaruhi sebagian besar warga Malaysia.

Menurutnya, mayoritas warga Malaysia hanya menggunakan rata-rata 100 liter BBM per bulan.

Sementara itu, berdasarkan data pemerintah, hampir 90 persen warga menggunakan kurang dari 200 liter BBM per bulan.

Halaman:


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau