KOMPAS.com - Malaysia akan memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi RON 95 mulai 1 April 2026.
BBM bersubsidi akan dipotong hingga sepertiga dari kuota seharusnya, sehingga warga Malaysia hanya dapat membeli maksimum 200 liter per bulan.
Adapun kuota BBM subsidi seharusnya sebesar 300 liter, sehingga pemerintah memotong batasan pembelian sebanyak 100 liter per bulan.
Langkah tersebut diambil di tengah-tengah krisis energi yang semakin parah akibat konflik di Timur Tengah.
“Langkah ini bersifat sementara, sambil menunggu pemulihan pasokan minyak global dan kondisi ekonomi, meskipun belum ada tanda-tanda perbaikan yang jelas,” kata Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim dikutip dari TheStraitsTimes, Kamis (26/3/2026).
Dia menyebut, pemerintah Malaysia “terpaksa” mengurangi kuota BBM subsidi karena negara tersebut menghadapi tekanan biaya yang meningkat.
Sebagai informasi, konflik atau perang di Timur Tengah terjadi sejak 28 Februari 2026 yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan melancarkan berbagai serangan ke Iran.
Akibatnya, Selat Hormuz hingga kini ditutup oleh Iran dan harga minyak global melonjak serta pasokan terhambat.
Baca juga: Wacana WFH untuk Hemat BBM, Pakar UGM: Harus Dikalkulasi Efisiensinya
Anwar memastikan bahwa harga BBM subsidi RON 95 di bawah skema Budi95 sebesar 1,99 ringgit Malaysia (sekitar Rp 8.400) per liter.
Adapun skema subsidi BBM tersebut diperkenalkan pada September 2025 lalu. Tanpa subsidi, BBM RON 95 seharga 3,97 ringgit (sekitar Rp 16.800) per liter.
“Semua negara, terutama negara-negara tetangga, telah menaikkan harga minyak, tetapi Malaysia memutuskan untuk mempertahankan harga Budi95 sebesar RM1,99,” terang Anwar.
Sementara itu, batasan BBM RON 95 untuk layanan transportasi daring dan pekerja lepas akan tetap 800 liter.
Baca juga: Krisis BBM Hantam Bangladesh, Pasokan Seret dan Antrean Mengular di SPBU
Anwar menyebut, pengurangan kuota BBM subsidi RON 95 kemungkinan tidak akan memengaruhi sebagian besar warga Malaysia.
Menurutnya, mayoritas warga Malaysia hanya menggunakan rata-rata 100 liter BBM per bulan.
Sementara itu, berdasarkan data pemerintah, hampir 90 persen warga menggunakan kurang dari 200 liter BBM per bulan.