Penulis
KOMPAS.com – Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot mendesak digelarnya sidang darurat Dewan Keamanan (DK) PBB menyusul serangkaian insiden serius yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon.
Ia menyebut, insiden tersebut sebagai “kejadian yang sangat serius”, terutama karena menewaskan personel penjaga perdamaian.
“Serangan di dekat posisi pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Barrot, sebagaimana dilansir Media Perancis L'Orient Today, Senin (30/3/2026).
Baca juga: BBC: 2 Lagi TNI Pasukan UNIFIL Gugur dalam Ledakan di Lebanon
Ia juga menegaskan bahwa Perancis mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab tragedi tersebut.
Korban dari Indonesia tersebut merupakan prajurit pertama dari misi UNIFIL yang gugur sejak pecahnya konflik baru antara Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, pada 2 Maret 2026.
Sayangnya, setelah Barrot mengeluarkan seruan, masih ada susulan korban tewas pasukan UNIFIL di Lebanon yang juga berasal dari Indonesia. Jumlahnya bahkan dua personel.
Dengan ini, total ada tiga prajurit penjaga perdamaian PBB asal Indonesia yang gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan.
Dua prajurit tewas pada Senin setelah ledakan dari sumber yang belum diketahui menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan. Dua tentara lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.
Sebelumnya, satu prajurit Indonesia lainnya gugur pada Minggu (29/2/2025) malam setelah sebuah proyektil meledak di dekat posisi UNIFIL di sekitar desa Adchit al-Qusayr. Dalam insiden itu, satu personel lainnya mengalami luka kritis.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menegaskan bahwa kedua kejadian tersebut merupakan insiden yang berbeda dan tengah diselidiki secara terpisah.
“Ini adalah dua insiden terpisah dan kami sedang menyelidikinya secara terpisah,” ujarnya, dikutip dari BBC.
Baca juga: PBB Konfirmasi 2 Lagi Personel UNIFIL Gugur Berasal dari Indonesia
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Senada dengan itu, Kepala Operasi Penjaga Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix mengecam keras insiden tersebut.
“Kami sangat mengutuk insiden yang tidak dapat diterima ini. Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” kata Lacroix dalam konferensi pers, Senin.
Insiden ini terjadi di tengah memanasnya konflik antara Israel dan Hizbullah yang kembali pecah sejak awal Maret 2026.
Kematian prajurit UNIFIL menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik, yang seharusnya bertugas menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel.
Hingga kini, penyelidikan atas kedua insiden tersebut masih berlangsung, sementara Dewan Keamanan PBB dijadwalkan segera menggelar sidang darurat untuk membahas situasi yang terus memburuk di kawasan tersebut.
Baca juga: Satu Prajurit TNI Tewas di Lebanon, PBB Kecam Keras Serangan Israel
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang