Penulis
KOMPAS.com - Angelo Di Livio, eks pemain sayap Italia dan pemenang Piala Dunia 2006, kecewa dengan kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Menurutnya, sepak bola Italia kini sangat biasa atau semenjana.
Timnas Italia gagal melaju ke Piala Dunia 2026 setelah takluk dari Bosnia and Herzegovina di laga final playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa.
Hasil Bosnia vs Italia ditentukan oleh babak adu penalti via skor 4-1 (1-1 di waktu normal) di Stadion Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB.
Azzurri harus bermain di Zenica dengan 10 personel setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah dari wasit Clement Turpin pada menit ke-41 setelah melanggar Amar Memic.
Baca juga: Timnas Italia Kembali Gagal ke Piala Dunia, Spinazzola Menangis
Di babak adu penalti, Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal menuntaskan tugas mereka.
Timnas Italia gagal ke Piala Dunia 2026 setelah juga absen di turnamen 2018 dan 2022.
Menurut Di Livio, tak ada lagi yang istimewa dari Serie A terutama jika dibandingkan dengan era saat dirinya merumput di mana ada banyak pemain nomor 10 trengginas seperti Alex del Piero, Francesco Totti, dan Roberto Baggio.
"Sepak bola Italia telah menjadi biasa saja," ujar Di Livio di Tuttomercatoweb.
"Menurut saya, lolos ke Piala Dunia seharusnya hal yang normal bagi tim nasional. Tetapi kita terjebak dalam situasi psikologis yang sulit keluar."
Penyerang Bosnia-Herzegovina Haris Tabakovic (C) merayakan gol bersama rekan-rekan setim setelah mencetak gol dalam laga final kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa antara Bosnia-Herzegovina dan Italia di stadion Bilino-Polje di Zenica pada 31 Maret 2026."Ini juga bergantung pada liga kita, pada kualitas pemain: itulah kita, dan kadang itu sangat sulit."
Baca juga: Kata-kata Gennaro Gattuso Usai Italia Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026
"Kita tidak lagi memiliki pemain nomor 10, memang kita menemukan Pio Esposito, kita punya Kean... Tapi kita tidak lagi punya pemain yang bisa melewati lawan, hanya pemain biasa."
"Sekarang kita menanggung akibatnya."
Di Livio pun bicara soal nasib Presiden FIGC (PSSI-nya Italia), Gabriele Gravina.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi jelas situasinya tidak bagus," ujar eks winger lincah ini.
"Reformasi harus dilakukan agar bisa kompetitif lagi. Saya kecewa dan terpukul; sesuatu harus dilakukan."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang